BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dampak perkembangan Iptek terhadap
proses pendidikan adalah semakin banyaknya sumber dan media dalam proses
pembelajaran seperti buku, teks, modul, film, televise, video, slide,
hypertext, web dan sebagainya.
Media pembelajaran sering kali disebut
sebagai alat bantu atau media pembelajaran dalam dunia pendidikan. media
sebagai salah satu komponen yang digunakan dalam proses pembelajaran dipilih
berdasarkan tujuan dan sebagai bahan pelajaran yang telah ditetapkan, sehingga
guru memiliki peran sebagai subyek dari pembelajaran yang nantinya harus dapat
memilih media yang sesuai dan tepat agar apa yang nantinya akan disampaikan
dapat diterima dengan baik oleh siswa.
Selain itu media merupakan suatu hal
yang tidak dapat dipungkiri dan tidak bias lepas dari proses pembelajaran daik
pembelajaran pedagogi ataupun andragogi. Namun pembelajaran antara pedagogi dan
andragogi tidak bias disamakan dimana perbedaan tersebut tampak dari upaya
pembelajaran orang dewasa yang berpusat pada warga belajar itu sendiri (learned
centered).
Makalah ini membahas mengenai media
Audio-Visual sebagai proses pendidikan Orang Dewasa, dimana didalamnya mencakup
mengenai definisi dari media belajar itu sendiri, fungsi media audio-visual, Media
Audio Visual sebagai Pendidikan Orang Dewasa, Macam-macam Audio Visual sebagai
media pembelajaran orang dewasa,
Makalah ini dibuat dengan harapan para tutor atau
guru nantinya dapat memperhatikan prinsip-prinsip belajar untuk orang dewasa,
sehingga prinsip tersebut dapat menjadi pegangan atau panduan dalam praktek
membimbing kegiatan belajar orang
dewasa. Karena mengajar anak-anak dengan mengajar orang dewasa sangatlah
berbeda, sehingga perlu adanya pemahaman secara mendalam dalam proses
pembelajaran orang dewasa.
1.2.Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka
masalah yang akan dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa
yang dimaksud dengan media pembelajaran?
2. Apa
Fungsi media dalam pembelajaran orang dewasa?
3. Bagaimana
Karakteristik Orang Dewasa dalam Belajar?
4. Apa
saja Macam-macam Audio Visual sebagai media pembelajaran orang dewasa?
5. Apa
Kelemahan dan Kelebihan dari medio Audio-Visual?
1.3.Tujuan Penulisan
Dengan
adanya makalah ini diharapkan pembaca nantinya dapat lebih memahami mengenai :
1. Apa
yang dimaksud dengan media pembelajaran.
2. Fungsi
media dalam pembelajaran orang dewasa.
3. Karakteristik
Orang Dewasa dalam Belajar.
4. Macam-macam
Audio Visual sebagai media pembelajaran orang dewasa.
5. Kelemahan
dan Kelebihan dari medio Audio-Visual’
BAB
II
LANDASAN
TEORI
Dari beberapa sumber
yang didapat, diperoleh teori-teori sebagai berikut:
1.
menurut Wallington, C.J. 1996 media merupakan salah satu komponen
komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan.
2.
Menurut
Susilana (2007) media berasal
dari kata latin dan bjamak dari kata “medium”, dan secara harfiah media
diartikan sebagai perantara atau pengantar.
3.
Dalam sudjana (1996). Sudjana menjelaskan pengertian dari pendidikan
orang dewasa, ia menyatakan bahwa pendidikan orang dewasa adalah pendidikan
yang diperlukab oleh orang dewasa dalam lingkungan masyarakat dengan tujuan
untuk meningkatkan kemamuan, pengalaman, kreatifitas,dan profesi yang telah
dimiliki serta memperoleh cara-cara baru dan merubah sikap juga perilaku.
4.
Mappa
(1994-114) mengatakan bahwa Orang
dewasa cendrung memilih kegiatan belajar yang dapat segera diaplikasikan, baik
pengetahuan ataupun ketrampilan yang dipelajari. Bagi orang dewasa, pendidikan
orang dewasa hakikatnya adalah proses peningkatan kemampuan untuk menanggulangi
masalah kehidupan yang dialami sekarang.
5.
Srinivasan
(1977: 35-69) dalam baslemen.2011 menglkasifikasikan metode pendekatan menjadi beberapa
bagian,ia mengajukan tiga macam pendekatan orang dewasa terhadap belajar, yakni
pendekatan yang berpusat pada masalan, pendekatan Proyektif, dan pendekatan aktualisasi
diri.
6.
Didalam http://www.psichologymania.com
Maslow dalam Arianto (2009) menyatakan bahwa aktualisasi diri adalah proses menjadi diri
sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi psikologis yang unik.
7.
Penggunaan media audio-visual dirasakan
lebih efektif karena selain melihat siswa juga dapat mendengar sehingga materi
yang disampaikan akan lebih mudah untuk di ingat dibandingkan hanya dengan
membaca ataupun menulis. Hal tersebut diungkapkan dalam munandi.
2013.
8.
Asnawir (2002:100) dalam munadi2013
telah mengklasifikasikan jenis film menjadi 10 jenis film, yaitu film informasi
, film kecakapan atau drill, film apresiasi, film documenter atau film yang
dibuat berdasarkan fakta bukan fiksi, film rekreasi, film episode, film sain,
film berita (news), film industry,
dan film provokasi.
9.
Menurut Heinich dkk dalam.(Munadi. 2013:177) Film documenter adalah film
yang dibuat berdasarkan fakta bukan fiksi dan bukan pula metafisikan yang
fakta. Jadi apa yang ada didalam film benar-benar terjadi dan tidak dibuat-buat
atau rekayasa belaka.
10.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(1995: 1119) mengertikan video dengan:
§ Bagian
yang memancarkan gambar pada pesawat televise.
§ Rekaman
gambar hidup untuk ditanyakan pada pesawat televise.
11. Video
merupakan rangkaian dari kata vi.deo dimana bila diartikan kedalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia Luar jaringan (Luring) video memiliki arti:
§ Bagian
yang memancarkan gambar pada pesawat televise, dan
§ Rekaman
gambar hidup atau program televise untuk ditayangkan lewat pesawat televise.
Namun bila dijabarkan, video merupakan media yang dapat dilihat
dan terdapat suara didalamnya pada gambar bergerak yang hidup, proses
perkembangan, dan penayangannya menggunakan suatu teknologi
12. Omar Hamalik
(1985: 134) dalam munadi (2013: 140)
menjelaskan mengenai pengertian televise dalam bahasa Inggris dan bila
diartika, Televisi adalah perlengkapan elektronik, yang pada dasarnya sama
dengan gambar hidup yang meliputi gambar dan suara sehingga bila disimpulkan
maka televise sama dengan film, yang dapat dilihat dan didengar.
13. Pengertian
telavisi dan jenis-jenis telefisi telah dijelaskan dalam Susilana. 2007:20. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa televise
adalah media yang dapat menampilkan pesan secara audio visual dan gerak (sama
dengan film). Dan membagi telefisi kedalam beberapa Jenis, diantaranya :
Televisi Terbuka, Televisi siaran terbatas (TVST), dan video-cassette recorder.
14. Proses
pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, Guru (komunikator), bahan
pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan
pembelajaran.(dalam http://file.upi.edu).
BAB III
PEMBAHASAN
3.1.Definisi Media Pembelajaran
Media merupakan salah satu komponen
komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan (Wallington, C.J, 1996). Sedangkan Media
pembelajaran merupakan suatu alat yang digunakan sebagai penyalur informasi
belajar yang dapat mempengaruhi perasaan, pikiran, dan kemudian muncul sebuah
keinginan siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Berdasarkan definisi
tersebut, dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran merupakan proses
komunikasi.
Proses
pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, Guru (komunikator), bahan
pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran. (dalam
http://file.upi.edu).
Kata
“Media” berasal dari kata latin, merupakan bentuk jamak dari kata “medium”.
Secara harfiah kata tersebut berarti perantara atau pengantar (susilana, 2007).
Media
pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan
(Bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan
perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Pembelajaran
merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran
menempati posisi yang sangat penting sebagai salah satu komponen sistem
pembelajaran. Tanpa adanya media, komunikasi tidak akan berlangsung dan proses
pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bias berlangsung secara
optimal.
3.2.Media
Audio Visual dalam Pendidikan Orang Dewasa
Pendidikan
Orang Dewasa (Adult Education) yaitu pendidikan yang disajikan untuk membelajarkan orang dewasa.
Dalam
Sudjana (1996). Menerangkan bahwa pendidikan orang dewasa adalah pendidikan
yang diperlukan bagi orang dewasa dalam lingkungan masyarakatnya, agar mereka
dapat mengembangkan kemampuan, memperkaya pengetahuan, menungkatkan kualifikasi
teknik dan profesi yang telah dimilikinya, memperoleh cara-cara baru serta
merubah sikap dan perilaku.
3.2.1.
Fungsi
media dalam pembelajaran orang dewasa
Dalam proses pembelajaran, media
memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (Guru) menuju penerima
(Siswa).
Sedangkan metode adalah prosedur untuk
membantu siswa dalam menerima dan mengolah informasi guna mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran itu terdapat pesan-pesan
yang harus dikomunikasikan. Pesan tersebut merupakan isi dari suatu toik
pembelajaran yang isampaikan oleh guru atau tutor kepada siswa atau peserta .
dimana penyampain tersebut melalui suatu media perantara dengan menggunakan
prosedur pembelajaran yang disebut dengan sebuah metode.
Pada dasarnya fungsi utama media pembelajaran adalah
sebagai sumber belajar. Selin itu media juga berfungsi untuk:
§ Memperjelas
pesan agar tidak terlalu verbalistis
§ Mengatasi
keterbatasan ruang, waktu, tenaga, dan daya indera.
§ Member
rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman, dan menimbulkan persepsi yang
sama.
Dalam kegiatan interaksi antara
siswa dengan lingkungan, fungsi media dapat diketahui berdasarkan adanya
kelebihan media dan hambatan yang mungkin timbul dalam proses pembelajaran.
Tiga kelebihan kemampuan media adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan
Fiksatif
Kemampuan untuk dapat menangkap,
menyimpan, dan menampilkan kembalisuatu obyek atau kejadian. Dengan kemampuan
ini, obyek atau kejadian dapat digambar, dipotret, direkam, difilmkan, kemudian
dapat disimpan dan pada saat diperlukan dapat ditunjukan dan diamati kembali
seperti kejadian aslinya.
2.
Kemampuan Manipulatf
Media dapat menampilkan kembali obyek atau
kejadian dengan berbagai macam perubahan (Manipulasi) sesuai keperluan,
misalnya diubah ukurannya, kecepatan, warnanya, serta dapat pula diulang-ulang
enyajiannya.
3.
Kemampuan Distributif
Media mampu menjangkau audien yang
jumlahnya besar dalam satu kali penyajian secara serempak, misalnya siaran TV
atau Radio.
3.2.2. Karakteristik Orang Dewasa dalam
Belajar
Orang dewasa cendrung memilih kegiatan
belajar yang dapat segera diaplikasikan, baik pengetahuan ataupun ketrampilan
yang dipelajari. Bagi orang dewasa, pendidikan orang dewasa hakikatnya adalah
proses peningkatan kemampuan untuk menanggulangi masalah kehidupan yang dialami
sekarang. (Mappa, 1994: 114). Proses pembeajaran orang dewasa memiliki
keunikan. Keunikan tersebut merupakan karakteristik belajar orang dewasa.
Karakteristik
belajar orang dewasa, yaitu:
1.
Orang dewasa memiliki pengalaman yang
berbeda-beda.
2.
Orang dewasa yang miskin memiliki
tendensi, merasa bahwa ia idak dapat menentukan hidupnya sendiri.
3.
Orang dewasa lebih suka menerima
saran-saran daripada digurui.
4.
Orang dewasa lebih member perhatian pada
hal-hal yang menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannya.
5.
Orang dewasa lebih suka dihargai
daripada diberi hukuman atau disalahkan.
6.
Orang dewasa yang pernah menglami putus
sekolah, memiliki kecendrungan untuk menilai lebih rendah kemampuan belajarnya.
7.
Apa yang dilakukan orang dewasa,
menunjukkan tahap pemahamannya.
8.
Orang dewasa secara sengaja mengulang
hal yag sama.
9.
Orang dewasa sudah belajar sejak kecil
tentang cara mengatur hidupnya. Oleh karena itu ia lebih suka melakukan sendiri
sebanyak mungkin.
10.
Orang dewasa menyukai hal-hal yang
praktis.
11.
Orang dewasa suka diperlakukan dengan
kesungguhan iktikad yang baik, adil dan masuk akal.
12. Orang
dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk lebih akrap dan menjalin hubungan
dekat dengan teman baru
3.2.3. Sifat Dasar Orang Dewasa dalam
Belajar
Usia dewasa merupakan usia untuk seseorang
memantapkan kemampuan dan ketrampilan dasar seseorang yang telah diperoleh pada
masa muda ataupun masa kanak-kanak. Pada usi dewasa, kemampuan dan ketrampilan
dasar seseorang juga dikembangkan agar semakin banyak pengetahuan dan
ketrampilan yang diperoleh, sehingga orang tersebut akan lebih mantap untuk
belajar ebih lanjut.
Dalam proses belajar, tidak semua orang
dewasa memiliki minat untuk belajar, sehingga peru adanya motivasi sehingga
orang dewasa memiliki semangat dan termotivasi untuk belajar dan dengan
melakukan pendekatan-pendekatan.
Srinivasan (1977: 35-69) mengajukan tiga
macam pendekatan orang dewasa terhadap belajar, yakni sebagai berikut:
a. Pendekatan yang berpusat pada
masalah
Dalam pendekatan ini , motivasi untuk
belajar nampaknya lemah, sehingga mereka perlu dibangkitkan untuk percaya pada
kemampuan diri sendiri dan diikut sertakan dalam penelitian mengenai masalah
yang dihadapi.
b. Pendekatan Proyektif
Pendekatan ini digunakan secara ektensi
dengan menguraikan konsep-konsep kehidupan ekonomi, dan keluarga yang semuanya
dikembangkan melalui cerita yang tidak terbatas sebagai strategi .
c. Pendekatan Aktualisasi Diri
Maslow
dalam Arianto (2009) dalam http://www.psichologymania.com
menyatakan aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan
mengembangkan sifat-sifat dan potensi psikologis yang unik.
Pendekatan aktualisasi diri berpendirian
bahwa perubahan akan efektif bila dimulai dari diri sendiri, mengandalkan
kemampuan diri secara lebih positif, yakni lebih percaya pada diri sendiri.
Pendekatan ini lebih berpusat pada warga belajar dan prosesnya digerakkan oleh
warga belajar.
Dalam
proses belajar orang dewasa seorang guru atau pengajar hendaknya memilih media
yang sesuai dengan kemampuan juga kebutuhan, terutama media yang menarik agar
menarik minat belajar orang dewasa, seperti penggunaan media audio-visual dalam
proses pembelajaran orang dewasa.
3.3.Macam-macam
Media Audio Visual dalam Pendidikan Orang Dewasa
Media
sangatlah identik dengan guru karene media merupakan salah satu komponen utama
dalam pembelajaran, selain tujuan, materi, metode, dan evaluasi, maka sudah
seharusnya seorang guru menggunakan media dalam proses pembelajaran. Sehingga
diperlukan bagi seorang guru memilih media untuk proses pembelajaran dengan
tepat atau sesua dengan apa yang diperlukan oleh siswa.
Selain
itu media merupakan suatu hal yang tidak dapat dipungkiri dan tidak bias lepas
dari proses pembelajaran daik pembelajaran pedagogi ataupun andragogi. Namun pembelajaran
antara pedagogi dan andragogi tidak bias disamakan dimana perbedaan tersebut
tampak dari upaya pembelajaran orang dewasa yang berpusat pada warga belajar
itu sendiri (learned centered).
Penggunaan
media audio-visual dirasakan lebih efektif karena selain melihat siswa juga
dapat mendengar sehingga materi yang disampaikan akan lebih mudah untuk di
ingat dibandingkan hanya dengan membaca ataupun menulis (dalam munandi, 2013). Adapun macam-macam media audio-visual,
yaitu:
3.3.1.Film
Media audio-visual ini terbagi
menjadi dua jenis. Jenis pertama, dilengkapi suara dan gambar dalam satu unit
dn dinamakan sebga media audio-visual murni, seperti film gerak (movie)
bersuara, televise dan video. Jenis kedua adalah audio-visual tidak murni,
seperti slide, opaque, OHP dan peralatan visual lainnya.
Film merupakan media pembelajaran yang
sangat efektif. Apa yang terlihat oleh mata dan terdengar oeh telinga, lebih
cepat dan lebih mudah untuk di ingat dibandingkan apa yang dibaca atau di
dengar saja.
3.3.1.1.Manfaat
dari media film dalam meningkatkan efektifitas dan efesiensi proses
pembelajaran, yaitu:
§ Mengatasi
keterbatasan jarak dan waktu.
§ Mampu
menggambarkan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu secara realitas
dalam waktu yang singkat.
§ Film
dapat diulangi apabila perlu untuk menambah kejelasan.
§ Pesan
yang disampaikan cepat dan mudah untuk di ingat.
§ Mengembangkan
pikiran dan pendapat para siswa.
§ Sangat
kuat dalam memengaruhi emosi seseorang.
§ Mengembangkan
imajinasi peserta didik.
§ Menumbuhkan
minat dan motivasi belajar, dll
3.3.1.2.Jenis-jenis
film
Berdasarkan konteks
pembelajaran, film memiliki banyak jenis yang variatif, diantaranya yaitu:
§ Film
Dokumenter
Menurut Heinich dkk dalam.(Munadi. 2013:177)
Film documenter adalah film yang dibuat berdasarkan fakta bukan fiksi dan bukan
pula metafisikan yang fakta.
§ Docudrama
Yaitu film documenter yang membutuhkan pengadegan.
§ Film
drama dan semidrama
Keduanya melukiskan human relation tema bias dari kisah-kisah
nyata ataupun dari nilai-nilai kehidupan yang diramu menjad sebuah cerita.
Berdasarkan
klasifikasi film, Asnawir (2002:100) mengklasifikasikan menjadi 10 jenis film,
yaitu film informasi, film kecakapan atau drill, film apresiasi, film
documenter, rekreasi, film episode, film sain, film berita (news), film industry, dan film provokasi.
3.3.2.Vidio
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia Luar jaringan (Luring) mengertikan video dengan:
1. Bagian
yang memancarkan gambar pada pesawat televise, dan
2. Rekaman
gambar hidup atau program televise untuk ditayangkan lewat pesawat televise.
Bila dijabarkan, video
merupakan media yang berkenaan dengan apa yang dapat dilihat dan di dengar pada
gambar yang bergerak (hidup), proses perkembangannya, dan penayangannya yang melibatkan
teknologi.
Karakteristik
video banyak kemiripan dengan media film, diantaranya adalah:
§ Mengatasi
keterbatasan jarak dan waktu.
§ Video
dapat diulangi bila perlu untuk menambah kejelasan.
§ Pesan
yang disampaikan cepat dan mudah diingat.
§ Mengembangkan
ikiran dan pendapat para siswa.
§ Menumbuhkan
minat dan motivasi belajar.
§ Dengan
adanya video penampilan dapat dilihat kembali untuk dievaluasi.
Selain kelebihan diatas, video juga memiliki sisi kekurangan,
yaitu media ini terlalu menekankan pentingnya materi ketimbang proses
pengembangan materi tersebut.
3.3.3.Televisi
Omar Hamalik
(1985: 134) dalam munadi (2013: 140):
“television is an electronic motion
picture with conjoined or attendant sound; both picture and sound reach the eye
and ear simultaneously from a remote broadcast point”.
Definisi tersebut menjelaskan bawa
televise sesungguhnya adalah perlengkapan elektronik, yang pada dasarnya sama
dengan gambar hidup yang meliputi gambar dan suara. Maka televise sebenarnya sama
dngan film, yang dapat dilihat dan didengar.
Media
televise mengandung beberapa keuntungan, yaitu:
§ Bersifat
langsung dan nyata, serta dapat menyajikan peristiwa yang sebenarnya.
§ Memperluas
tinjauan kelas, melintasi berbagai daerah atau berbagai Negara.
§ Dapat
menciptakan kembali peristiwa masa lampau.
§ Banyak
mempergunakan sumber-sumber masyarakat.
§ Dapat
mempertunjukkan banyak hal dan banyak segi yang beraneka ragam.
3.4.Kelemahan
dan Kelebihan medio Audio-Visual
Dalam proses pembelajaran, media
tidak selalu bernilai positif, ada beberapa kelemahan dan kelebihan dalam
penggunaan media dalam pembelajaran. Didalam media audio-visual juga terdapat
kekurangan atau kelemahan dan kelebigannya, diantaranya sebagai berikut:
3.4.1.FILM
(Motion Picture)
Film juga disebut gambar
hidup (Motion Picture), yaitu
serangkaian gambar diam (still pictures) yang
meluncur secara cepat dan diproyeksikan sehingga menimbulkan kesan hidup dan
bergerak.
Ada beberapa jenis film,
diantaranya film bisu, film bersuara, dan film gelang yang ujugnya saling
bersambungan dan proyeksinya tak memerlukan penggelapan ruangan.
3.4.1.1.Kelebihan
Media Film
a. Meemberikan
pesan yang dapat diterima secara merata oleh para siswa.
b. Lebih
realitas, dapat diulang-ulang dan dihentikan sesuai dengan kebutuhan.
c. Memberikan
kesan yang mendalam, yang bias mempengarusi sikap siswa.
d. Sangat
bagus dalam menerangkan suatu proses.
e. Mengatasi
keterbatasan ruang dan waktu.
3.4.1.2.Kelemahan
Media Film
a. Memerlukan
operator kusus untuk mengoperasikannya.
b. Harga
produksinya cukup mahal.
c. Memerlukan
penggelapan ruangan.
d. Pembuatannya
memerlukan banyak waktu dan tenaga.
3.4.2.VIDEO
Video merupakan suatu
media yang dapat memancarkan gambar hidup pada pesawat televisi dan suara
melalui pesawat telefisi.
3.4.2.1.Kelebihan media video
§ Memperjelas hal-hal yang abstrak dan
memberikan penjelasan yang lebih realistic.
§ Mampu mengembangkan peristiwa-peristiwa masa
lalu secara realistis dalam waktu yang singkat.
§ Dapat membawa siswa berpetualang dari Negara
satu ke Negara lain dan dari masa satu ke masa yang lain.
§ Mengembangka
imajinasi
§ Mengembangkan
pikiran dan pendapat para siswa.
§ Pesan
yang disampaikan berlangsung cepat dan mudah di ingat.
§ Menghemat
waktu dan dapat program dapat diulang-ulang sesuai dengan kebutuhan.
§ Saat
proses pembelajaran ruangan tidak perlu gelap.
§ Dengan
menggunakan alat perekam pita video penonton atau siswa dapat memperoleh
informasi dari ahli-ahli spesialis.
3.4.2.2. Kekurangan media video
§ Video
lebih menekankan pada materi daripada proses pengembangan materi tersebut.
§ Peserta
sukar untuk berpartisipasi dan perhatian siswa sulit untuk dikuasai.
§ Baya
peralatan relative mahal
§ Komunikasi
bersifat satu arah dan harus diimbangi dengan umpan balik yang berbeda.
§ Objek
yang disajikan tidak mendetail.
§ Jangkauan
terbatas.
3.4.3.
TELEVISI
Telefisi adalah media yang dapat menampilkan pesan secara
audio visual dan gerak (sama dengan film). Jenis media televise diantaranya :
Televisi Terbuka, Televisi siaran terbatas (TVST), dan video-cassette recorder
(VCR). (dalam Susilana. 2007:20).
3.4.3.1.
Media Televisi Terbuka
Media televise terbuka
adalah media audio-visual gerak yang penyampaian pesannya melalui pancaran
gelombang elektromagnetik dari satuu stasiun, kemudian pesan
diterima mmelalui pesawat televise.
1. Kelebihan
Media televise terbuka
a. Mengatasi
keterbatasan ruang dan waktu
b. Jangkauan
penyebarannya sangat luas.
c. Informasi
atau pesan yang disampaikan lebih actual.
d. Sangat
bagus untuk menerangkan suatu proses.
e. Memberikan
pesan yang dapat diterima secara lebih merata oleh siswa.
f. Memberikan
kesan yang mendalam, yang dapat mempengaruhi sikap siswa.
2. Kelemahan
Media televise terbuka
a. Gambarnya
relative kecil.
b. Sifat
komunikasinya hanya satu arah.
c. Program
tidak dapat diulang-ulang sesuai kebutuhan.
d. Kadang
terjadi distorsi gambar dan warna
akibat kerusakan atau gangguan magnetic.
2.3.3.2.
Media televise siaran terbatas (TVST)
TVST atau CCTV adalah
media audio-visual gerak yang penyampaian pesannya di distribusikan menggunakan
kabel.
Kelebihan televise ini dibandingkan dengan televise terbuka
yaitu komuikasi dapat dilakukan secara dua arah ( hubuan proses pembelajaran
dilakukan melalui intercom),
kebutuhan peserta didik data lebih
diperhatikan dan terkontrol. Sedangkan kelemahannya yaitu jangkauannya relative
terbatas.
BAB
IV
PENUTUP
4.1.Simpulan
Pendidikan bukan hanya dibutuhkan oleh
anak namun pendidikan di butuhkan juga oleh semua manusia, baik kaya, miskin,
muda, ataupun tua. Dalam duia pendidikan
guru memiliki peranan penting dalam keberlangsungnya proses pembelajaran dan
dengan adanya media atau alat bantu akan menjadikan proses pembelajaran akan lebih
memberikan dampak besar pada
Proses
belajar merupakan proses komunikasi antara komunkator atau guru dengan
komunikan atau siswa. Media sangat berperan dalam proses pembelajaran karena
dengan adanya media. Siswa aka lebih mudah menerima apa yang di sampaikan oleh
guru, karena media dapat merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan
siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Dalam proses belajar orang dewasa tidak dapat
disamakan dengan proses belajar anak-anak, karena orang dewasa cendrung memilih
kegiatan belajar yang dapat segera diaplikasikan baik itu berupa pengetahuan
atau ketrampilan yang telah dipelajari.
Media pembelajaran Audio-Visual
terdiri dari beberapa jenis, seperti: Telefisi, Video, dan Film. Dimana media
tersebut terdapat berbagai kelebihan juga kekurangan.dan media ini memiliki
berbagai fungsi yang dapat merangsan siswa dalam proses belajar.
4.2.Saran
Banyaknya manfaat dan fungsi dari media
pembelajaran terutama media Audio-Visual, diharapkan guru tidak memberikan
pembelajaran hanya dengan metode ceramah, namun dapat memanfaatkan media
tersebut, seperti televise, video, atau film. Karena dengan menggunakan media
yang dapat didengar dn dilihat seperti media audio-visual peserta didik akan
lebih mudah untuk memahami dan akan lebih mudah menerim apa yang ingin
disampaikan oleh guru atau komunikator .
DAFTAR PUSTAKA
Wallington, C.J. 1996.
Media Production. New York: Elsevier Science, Inc.
Susilana, Rudi &
Riana, Cepi. 2008. Bandung: CV Wacana Prima.
Balseman,Anisah &
Syamsu, Mappa. 2001. TEORI BELAJAR ORANG
DEWASA. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Munadi, Yudhi. 2013. Media Pembelajaran, sebuah pendekatan. Jakarta selatan: Reverensi
(GP ress Group).
Sudjana, H.D.
2001. Pendidikan Luar Sekolah.
Bandung: Falah Production.
Mappa, Syamsu dan Anisah Basleman. 1994. Teori Belajar Orang Dewasa. Jakarta:
Departemen P & K
Sudjana, H.D. 1996. Pendidikan Luar Sekolah. Bandung: Falah Production.
http://www.psichologymania.com/2012/12/karakteristik-aktualisasi-diri.html
(6
Oktober 2013. 7:56 PM)
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/194704171973032-MULIATI_PURWASASMITA/MEDIA_PEMBELAJARAN.pdf
(02
Oktober 2013. 4:25 AM)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar