my Photo

my Photo

Sabtu, 21 Desember 2013

DIMENSI AKSIOLOGI DAN METODOLOGINYA




1.      DIMENSI AKSIOLOGI
1.1.   Pengertian Aksiologi
Aksiologi berasal dari perkataan axios (yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah “teori tentang nilai”
(Burhanuddin Salam, Logika Materil; Filsafat Ilmu Pengetahuan,Jakarta:Reneka Cipta,1997, cet ke-1, hlm.168).

Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan, aksiologi disamakan dengan Value and Valuation. Ada tiga bentuk Value and Valuation.
a.       Nilai, digunakan sebagai kata benda abstrak. Dalam pengertian yang lebih sempit seperti, baik, menarik dan bagus. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas mencakupi sebagai tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran dan kesucian. Penggunaan nilai yang lebih luas, merupakan kata benda asli untuk seluruh macam kritik atau predikat pro dan kontra, sebagai lawan dar suatu yang lain dan ia berbeda dengan fakta. Teori nilai atau aksiologi adalah bagian dari etika. Lewis menyebutkan sebagai alat untuk mencapai beberapa tujuan, sebagai nilai instrumental atau menjadi baik atau sesuatu menjadi menarik, sebagai nilai inheren atau kebaikan seperti estetis dari sebuah karya seni, sebagai nilai intrinsic atau menjadi baik dalam dirinya sendiri, sebagai nilai contributor atau nilai yang merupakan pengalaman yang memberikan kontribusi.
b.      Nilai sebagai kata benda konkret. Contohnya ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai, ia seringkali dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai, seperti nilainya, nilai dia, dan system nilai dia. Kemudian dipakai untuk apa-apa yang memiliki nilai atau bernilai sebagaimana berlawanan dengan apa-apa yang tidak dianggap baik atau bernilai.
c.       Nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi  menilai, member nilai, dan dinilai. Menilai umumnya sinonim dengan evaluasi ketika hal tersebut secara aktif digunakan untuk menilai perbuatan. Dewey membedakan dua hal tentang menilai, ia bias berarti menghargai dan mengevaluasi.
(Paul Edwards,(ed), The Encylopedia of Philosophy, New York: Collier Macmillan Publishers, 1967, Vol 7 ).

Objek formal etika adalah norma-norma kesusilaan manusia, dan dapat dikatakan pula bahwa etika mempelajari tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dantidak baik didalam suatu kondisi yang normative, yaitu suatu kondisi yang melibatkan norma-norma. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan  dan fenomena di sekelilingnya.
1.2.   KAJIAN AKSILOGI
Prestasi teknologis ilmu-ilmu alam modern sudah kita ketahui bersama. Kita hidup dijaman produk-produk ilmiah: mobil,pesawat terbang,listrik,TV,plastik dan sebagainya. Konsekuensi teknologi modern tidak selalu positif. Contohnya, energi atom diiringi dengan tindak pemusnahan. Revolusi industri, yang memungkinkan standart kehidupan kita sekarang,juga mengusung hujan buatan misalnya, yang menghancurkan hutan kita, dan pada gilirannya juga mengotori udara yang kita hirup.
Aksiologi adalah studi tentang nilai atau kualitas. Aksiologi mencakup etika dan estetika - bidang filsafat yang sangat terkait pada gagasan tentang nilai – dan kadang-kadang disamakan dengan teori nilai dan meta-etika (pada pembahasan ini ditambah dua bidang, yakni filsafat politik dan filsafat kebajikan yang juga menyangkut nilai-nilai kemanusiaan pokok). Istilah ini berkembang abad ke-19 dan 20, tetapi pada dekade-dekade sekarang ini teori nilai cenderung menggesernya dalam diskusi-diskusi sifat dalam dasar nilai atau kebaikan secara umum. Aksiologi adalah ilmu tentang nilai. Kata “axiology” berasal dari bahasa Yunani Kuno “axio” (berharga atau bernilai) dan “logos” (logika atau teori), yang berarti teori nilai.
1.3.   Teori Nilai
1.3.1.      Definisi Nilai
Nilai, dalam filsafat, adalah suatu prinsip atau standart untuk mempertimbangkan baik buruknya sesuatu. Baik adalah sesuatu yang menyenangkan dan sesuai bagi maksud tertentu, sedangkan buruk berarti yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai bagi maksud tertentu. Benar adalah kesesuaian putusan atau hasil kebaikan tertinggi (dan tidak sekedar mendekati kebaikan), sedangkan salah berarti ketidak sesuaian putusan atau hasil kebaikan tertinggi.


1.3.2.      Sumber Nilai-nilai
Nilai-nilai diturunkan dari maksud-maksud dan keinginan-keinginan. Keinginan adalah hasrat-hasrat yang muncul dari muatan rasa senang dan rasa sakit. Keinginan-keinginan tersebut bisa saja berbenturan antara satu dengan yang lain, seiring dengan maksud dan kemampuan. Maksud adalah hasrat bagi tercapainya tujuan tertentu. Kebahagiaan adalah kecenderungan manusia untuk mencapai pemenuhan keinginan-keinginan dan hasrat-hasratnya.
Tujuan tertinggi bagi sebagian besar umat manusia adalah keterjagaaan diri yang menampak pada tiga hal:
1.      Keberlangsungan hidup personal: keberlanjutan tubuh, pikiran dan jiwa
2.      Keberlangsungan genetis: keberlanjutan keluarga
3.      Keberlangsungan memetic: keberlanjutan ingatan dan kreasi-kreasi

1.3.3.      Justifikasi Nilai-nili
Manusia tak memiliki bukti bahwa alam semesta ini  mempunyai tujuan inheren penciptaannya, sehingga alam tak mempunyai tujuan yang dapat diharapkan menjadi basis nilai. Alam ini tidak bisa dikatakan baik atau buruk, dan didalamnya tak ada keinginan atau kepentingan satu makhlukpun yang menentukan keberadaannya.
Beberapa kriteria untuk memilih nilai-nilai fundamental adalah  melalui pendekatan-pendekatan:
1.      Universalitas, dalam aksiologi diartikan sebagai prinsip bahwa mempertahankan nilai fundimental berarti mendukung pandangan tentang nilai yang serupa.
2.      Imparsialitas, dalam aksiologi diartikan sebagai prinsip bahwa nilai pokok tak dapat mendukung sesuatu yang partikular lebih dari yang lainnya yang sejenis.
3.      Maksimalitas, dalam aksiologi diartikan sebagai prinsip bahwa jika suatu nilai itu fundemental, maka terlalu banyak ketidak masuk akalan didalamnya.
4.      Kompatibilitas, dalam aksiologi diartikan sebagai prinsip bahwa nilai-nilai pokok harus relatif sesuai dengan selera dan hasrat alamiah si penilai.

1.3.4.      Nilai-nilai yang menonjol
1.      Intelegensi
Kita tak hanya menghargai informasi dan pengetahuan, teapi juga pemahaman, kearifan, dan khususnya itelegensi yang menghasilkan dan memuat itu semua.
Pemahaman adalah pengetahuan yang pokok, berulang dan kreatif, hal itu penting dan tidak dapat direduksi, mendukung dan menyiratkan banyak pengetahuan derivatif lain, dan menentukan posisi diri yang diketahui dan diri yang mengetahui dalam pengetahuan yang lain. Kreatif adalah pemahaman dari maksud seseorang dan cara terbaik mencapainya.
2.      Kehidupan
Kita menghargai kompleksitas dan deversitas yang terorganisir yang terletak antara keteraturan yang sempurna dan kekacauan yang acak. Sistem-sistem seperti kehidupan yang mengalami evolusi karena seleksi alam adalah sumber terbaik kompleksitas dan diversitas yang terorganisir itu.
3.      Otonomi
Kehidupan membutuhkan otonomi untuk mengejar kepentingan diri yang diperlukan untuk mempertahankan diri dan lingkungannya. Intelegensi membutuhkan otonomi untuk mempersoalkan asumsi-asumsi dan otoritas.

1.4.   Fungsi Aksiologi
1.4.1.      Kegunaan bagi ilmu dan teknologi
      Hasil Ilmu Pendidikan adalah konsep-konsep ilmiah tentang aspek-aspek dan dimensi-dimensi pendidikan sebagai salah satu gejala kehidupan manusia. Pemahaman terhadap konsep-konsep ilmiah pendidikan secara potensial mempunyai nilai kegunaan untuk mengembangkan isi dan metode Ilmu Pendidikan. Di samping itu, secara potensial dapat pula membantu meningkatkan wawasan dan keyakinan diri kita, baik sebagai ahli pendidikan atau teoretikus pendidikan maupun sebagai praktisi pendidikan (pendidik dan pengelola pendidikan). Dengan kata lain, secara potensial dapat turut serta mengembangkan mutu profesional teoretikus dan praktisi pendidikan.
Ilmu Pendidikan memberikan sumbangan yang tidak kecil terhadap perkembangan Ilmu-Ilmu Tingkah-Laku (Behavioral Sciences) dan/ atau Ilmu-ilmu sosial. Secara teoretis, rentang lingkup dan wawasan Ilmu-ilmu tingkah-Laku dan/atau Ilmu-ilmu Sosial diperluas dan diperkaya oleh konsep-konsep ilmiah pendidikan. Masuknya pendidikan sebagai objek penyelidikan Ilmu-ilmu Tingkah-Laku dan atau ilmu-ilmu sosial menyebabkan perubahan-perubahan yang berarti dalam penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan dalam cabang-cabang ilmu yang menjadi komponen-komponen ilmu-ilmu tingkah-laku dan atau ilmu-ilmu sosial.
Teknologi pendidikan berkenaan dengan keseluruhan proses pendidikan pada dasarnya atas tiga tahap, yaitu
1) perncanaan,
2) pelaksanaan, dan
3)penilaian.
Oleh karena itu, secara konseptual teknologi pendidikan mencakup:
1) Teknologi Perancangan pendidikan,
2) Teknologi Belajar-mengajar, dan
3) Teknologi evaluasi pendidikan.
Teknologi perancangan pendidikan terutama berkenaan dengan prosedur-prosedur penyusunan dan pengembangan kurikulum. Teknologi Belajar berkenaan dengan pengembangan yang berfungsi: 1) melibatkan motivasi siswa, 2) meningkatkan kembali hasil belajar yang lama, 3) memberikan rangsangan baru dalam belajar, 4) menggiatkan tanggapan siswa, 5) memberikan balikan secara cepat, dan 6) mendorong timbulnya aktivitas yang tepat pada siswa (Rowntree: 168). Teknologi mengajar, seperti dikemukakan oleh S. S. Chauhan dalam Innovation in Teaching Learning Process, mencakup: 1) Proses Belajar-Mengajar, 2) Model-model Mengajar, 3) Rancangan-rancangan Pengajaran, 4) Pengajaran Mandiri, 5) Pengajaran terprogram dan mesin mengajar, 6) Sistem Pengajaran yang berorientasi pada diri pribadi (PSI atau Personalized System of Instruction), 7) Pengajaran dengan Bantuan Komputer (CAI atau Computer Assisted Instruction), dan 8) Pengajaran yang irama belajarnya diatur sendiri oleh Pelajar (LCI atau Learner-Controlled Instruction). Sedangkan teknologi Evaluasi Pendidikan berkenaan dengan model-model evaluasi pendidikan.

1.4.2   Kegunaan bagi Filsafat
      Konsep-konsep ilmiah pendidikan sangat berkaitan erat atau bahkan dapat dikatakan terpusat pada konsep tentang manusia. Oleh karena itu, konsep-konsep ilmiah pendidikan secara potensial turut mendorong berkembangnya pemikiran tentang hakikat manusia. Hal ini mengandung arti turut mendorong berkembangnya filsafat tentang manusia atau antropologi filsafat, yang membahas tentang hakikat manusia idaman atau manusia ideal. Sehubungan dengan ini, lahirlah konsep-konsep tentang hakikat manusia sebagai: animal rasionale, animal sosiale, animal symbolicus, homo sapiens, homo economicus, homo homini lupus, homo ludens, dan sebagainya. Di samping itu, konsep-konsep ilmiah tentang pendidikan turut pula mendorong berkembangnya pemikiran tentang hakikat anak manusia. Hal ini mengandung arti turut mendorong berkembangnya filsafat tentang anak manusia (Langeveld menyebutnya antropologi anak), yang membahas tentang siapa sebenarnya anak manusia itu. Sehubungan dengan hal ini, misalnya telah berkembang konsep-konsep bahwa: anak lahir membawa dosa asal, anak lahir sebagai tabula rasa, anak lahir tidak berdaya tapi membawa potensi-potensi tertentu, anak lahir baik atau anak lahir membawa benih-benih yang baik, anak lahir terbelenggu atau terpenjara oleh hal-hal yang bersifat fisik, dan sebagainya. Baik Antropologi filsafat maupun antropologi filsafat anak tertuju pada pembahasan tentang animal educandum, yaitu manusia yang mungkin dan harus dididik dan mendidik. Dengan kata lain membahas tentang batas-batas kemungkinan dan keharusan pendidikan, baik yang berhubungan dengan ruang dan waktu maupun kemampuan mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.

1.5.   Objek kajian Aksiologi
1.3.1        Metaphysica Generalis / Metafisika Umum
Berbeda dengan metaphysica specialis , metafisika khusus atau khususnya. Perbedaan ini dapat ditelusuri kembali ke metafisika Aristoteles . Aristoteles sendiri dimaksud dengan meta - fisika sebagai filsafat pertama atau sophia ( kebijaksanaan) , Artinya, ilmu penyebab utama dan prinsip-prinsip . Kadang-kadang saya Kata metafisika Itu adalah ilmu yang qua makhluk dan Itu Inkuiri Menyediakan titik awal untuk semua ilmu-ilmu lain . Di tempat lain saya memegang metafisika itu berkaitan dengan jenis khusus menjadi Yang melampaui zat yang masuk akal , Yaitu Allah , dan Bahwa MAKA teologi . Para filsuf abad pertengahan yang disebut Kedua rekening metafisika Masing metaphysica metaphysica generalis dan specialis . Aristoteles Diyakini Bahwa Ini Dua rekening metafisika dapat didamaikan , namun tidak menawarkan argumen yang meyakinkan untuk kesimpulan itu. Masalah berurusan Dengan ini dua account telah Mengingat menimbulkan diskusi utama dalam beasiswa Aristotelian dan sangat Mempengaruhi pemahaman kita tentang metafisika . Pembedaan ini telah ditahan dalam perkembangan selanjutnya metafisika , tetapi maknanya bervariasi . Pada abad XVII dan XVIII , telah diidentifikasi dengan metafisika ontologi keseluruhan , que umumnya terkait dengan konsep , sedangkan metafisika khusus Diidentifikasi dengan teologi alamiah .

1.3.2        Cosmologia
adalah studi tentang alam semesta secara keseluruhan, yang meliputi teori-teori pada asal, evolusi, struktur skala besar dan masa depannya.

1.3.3        Anthropologia Filosofica
Antropologi filosofis dapat dipahami dalam beberapa cara. Salah satunya adalah studi filosofis manusia dikembangkan selama berabad-abad dan saat ini subjek perhatian filsuf. Cara lain untuk memahami ekspresi akan lebih terbatas, dan berlaku untuk gerakan atau aliran pemikiran yang didirikan di Jerman pada tahun 1920 dan 1930, filsuf, antropolog dan sosiolog. Gerakan ini memiliki pengaruh yang menentukan pada lanskap intelektual Jerman abad kedua puluh.

1.3.4        Filsafat Biologiear
Istilah Biologi berasal dari kata yunani bios yang berarti kehidupan dan logos yang berarti pengetahuan. Jadi biologi adalah ilmu pengetahuan tentang kehidupan. Kehidupan adalah bagian dari alam, sehingga biologi adalah bagian dari ilmu alam (Sains). Objek kajian Bilogi adalah mempelajari tentang kehidupan pada berbagai tingkat organism. Tingkat organism kehidupan tersebut meliputi sel, jaringan,, organ, sistem organ, individu, populasi, komunitas, ekosistem bahkan juga tingkah laku yang lebih tinggi yaitu Biosfer.

1.3.5        Filsafat Psichologi
Filsafat psikologi mengacu pada isu-isu di fondasi teoritis psikologi modern. Beberapa isu-isu keprihatinan epistemologis tentang metodologi investigasi psikologis. Sebagai contoh:
* Apa yang merupakan metodologi yang paling tepat untuk psikologi: mentalisme, behaviorisme, atau kompromi?
* Apakah laporan diri suatu metode pengumpulan data yang dapat diandalkan?
* Apa kesimpulan yang bisa ditarik dari uji hipotesis nol?
* Dapat pengalaman orang pertama (emosi, keinginan, keyakinan, dll) diukur secara obyektif?
            Isu-isu lain dalam filsafat psikologi adalah pertanyaan filosofis tentang sifat dari pikiran, otak, dan kognisi, dan mungkin lebih sering dianggap sebagai bagian dari ilmu pengetahuan kognitif, atau filsafat pikiran
Filsafat psikologi adalah bidang yang relatif muda karena 'ilmiah' psikologi-yaitu psikologi yang nikmat metode eksperimental selama introspeksi - mendominasi studi psikologis hanya di akhir abad kesembilan belas. Salah satu filsafat keprihatinan psikologi adalah untuk mengevaluasi manfaat dari sekolah yang berbeda dari psikologi yang telah dan dipraktekkan. Misalnya, gunakan psikologi kognitif tentang keadaan mental internal bisa dibandingkan dengan behaviorisme, dan alasan penolakan luas behaviorisme pada pertengahan abad kedua puluh diperiksa.



1.3.6        Filsafat Sosiologie
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan manusia dengan lingkungannya. Pada postingan Pengertian dan Penjelasan tentang sosiologi ini, akan ada banyak hal yang  saya bahasadalah tentang Pengertian sosiologi, sejarah lahirnya sosiologi, dan objek studi sosiologi. Agar lebih paham pada beberapa pokok pembahasan tersebut, alangkah lebih baik jika sobat mau membaca penjelasan ini sejenak. Sosiologi merupakan ilmu yang relatif baru jika dibandingkan dengan ilmu lainnya (seperti fisika,biologi,geografi, dan lainnya). 

1.3.7        Epistimologi
Epistemologi adalah teori atau ilmu pengetahuan tentang metode dan dasar-dasar pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan batas-batas pengetahuan dan validitas atau sah berlakunya pengetahuan itu. (Darwis. A. Soelaiman, 2007, hal. 61).
Epistemologi atau Filsafat pengetahuan merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Apabila kita berbicara mengenai filsafat pengetahuan, yang dimaksud dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan kefilsafatan yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan tentang hakikat pengetahuan.
Jacques Veuger mengemukakan, epistemologi adalah pengetahuan tentang pengetahuan dan pengetahuan yang kita miliki tentang pengetahuan kita sendiri bukannya pengetahuan orang lain tentang pengetahuan kita, atau pengetahuan yang kita miliki tentang pengetahuan orang lain. Pendek kata Epistemologi adalah pengetahuan kita yang mengetahui pengetahuan kita.

1.3.8        Filsafat Etica
Etika berasal dari bahasa yunani Ethos (tunggal) atau etha (Jamak) yang berarti watak, kebiasaan dan adat istiadat. Pengertian ini berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun suatu masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Pengertian etika identik dengan pengertian moralitas. Moralitas berasal dari bahasa latin, mos (tunggal) atau mores (jamak) yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Jadi atika dan moralitas mempunyai arti yang sama sebagai sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup baik yang kemudian terwujud dalam pola perilaku yang konstan dan terulang dalam kurun waktu sehingga menjadi sebuah kebiasaan.

1.3.9        Filsafat Estetika
Filsafat estetika adalah cabang ilmu yang membahas tentang keindahan . bagaimana keindahan bisa tercipta dan bagaimana orag bisa merasakannya dan bisa memberi penilaian terhadap keindahan tersebut.

1.3.10    Theodicea (teologi naturalis)
membicarakan Tuhan. Apanya? Banyak. Apakah Tuhan itu ada? Bukti-buktinya apa? Sifatnya, susunannya, kemauannya, dan lain-lain. Kalau menurut Aristoteles bukti bahwa Tuhan itu ada adalah bahwa Tuhan itu penyebab gerak (cause of motion). 

2.      Pengembangan Teori/Ilmu dan Alternatif Metodologinya
2.1  Pengertian Ilmu/Teori dan Pengetahuan
Ilmu adalah pengetahuan, tetapi tidak semua pengetahuan adalah ilmu. Pengetahuan dapat menjawab pertanyaan tentang apa, sedangkan ilmu dapat menjawab pertanyaan tentang mengapa dari kenyataan/kejadian. Sehingga bisa disimpulkan bahwa :
§  pengetahuan adalah pembentukan pemikiran asosiatif yang menghubungkan atau menjalinkan sebuah pikiran dengan kenyataan atau dengan pikiran lain berdasarkan pengalaman yang berulang-ulang tanpa pemahaman mengenai kausalitas (sebab-akibat) yang hakiki dan universal (Soetriono,2007).
§  Sementara ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang menjelaskan kausalitas (hubungan sebab-akibat) dari suatu objek menurut metode-metode tertentu yang merupakan suatu kesatuan sistematis (Rita,2007).



2.2  Perkembangan Pengetahuan
Pada tahap pertama manusia memperoleh pengetahuan melalui pengamatan, kemudian membeda-bedakan, diikuti dengan upaya memilih, yang pada akhirnya melakukan percobaan. Tetapi dalam masa prasejarah, percobaan yang dilakukan masih bersifat trial and error. Pada masa ini pengetahuan manusia lebih banyak diperoleh dari alam sekitar, kadang-kadang secara kebetulan. Makanan, minuman, dan pakaian, semuanya bergantung pada alam. Bilamana di suatu tempat apa yang diperlukan itu habis maka mereka pindah ke tempat lain.
Dari pengalamannya sehari-hari manusia kemudian memahami bahwa makanan itu tidak hanya bergantung pada alam, tetapi bisa dibuat sendiri. Dari situ manusia mulai mencoba menanam tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan makanan seperti yang mereka peroleh dari alam sekitarnya. Binatang yang biasanya diburu atau dicari langsung kemudian dicoba untuk memeliharanya melalui penjinakan binatang-binatang hasil buruaan. Berkembanglah pengetahuan manusia dengan apa yang disebut bercocok tanam atau pertanian, peternakan pembuatan makanan, pembuatan alat-alat makanan, pembuatan pakaian, dan lain sebagainya.
Dalam masa sejarah yang dimulai kurang lebih 15.000 sampai dengan 600 tahun Sebelum Masehi, pengetahuan manusia telah berkembang lebih maju. Pada masa ini manusia telah mengenal membaca, menulis, dan berhitung. Kebudayaan manusia pun mulai berkembang diberbagai tempat tertentu. Antara lain dikenal kebudayaan Mesir di Afrika, Sumeria, Babilonia, Niniveh dan Tiongkok di Asia, Maya dan Inca di Amerika Tengah. Manusia sudah bisa menghitung dan mengenal angka.
Pada jaman Yunani Kuno perkembangan ilmu secara pesat terjadi disana. Karakteristik penalaran dari bangsa Yunani Kuno di pengaruhi oleh sikap mereka yang memandang manusia sebagai makhluk luhur yang punya kebebasan. Manusia mempunyai kebebasan untuk berpikir dan berbuat sesuai dengan keyakinan yang dimilikinya. Tokoh-tokoh pemikir yang telah meletakkan dasar filsafat ilmu pada masa ini antara lain Aristoteles yang merupakan pelopor utama logika deduktif. Dalam bukunya ia mengemukakan tentang analisis yang berupa silogisme yang terdiri dari tiga kalimat, premis mayor yang bersifat umum, premis minor yang bersifat khusus dan dari kedua premis tersebut ditarik sebuah kesimpulan.

Premis mayor        : semua manusia akan mati
Premis minor         : sokrates manusia
Kesimpulan           : sokrates akan mati
Jika premis mayor dan premis minor benar, maka kesimpulan pasti benar.
Menurut Duverger, filsafat ilmu dalam abad pertengahann lebih banyak dipengaruhi oleh agama dan moral. Di Indonesia pengetahuan manusia sudah berkembang sejak jaman kerajaan. Dengan adanya kerajaan tersebut maka Indonesia sudah lama mengenal dan mempunyai pengetahuan tentang mengatur negara dan masyarakat. Dalam pertanian sudah lama mengenal pengairan sawah, peternakan yang juga digunakan untuk kepentingan transportasi, pertanian, dan berbagai macam kerajinan dari tanah liat, kayu dan logam, menggambar dan musik. Nenek moyang bangsa Indonesia terkenal sebagai pelaut atau ahli maritim, navigasi serta pembuatan perahu dan juga terkenal sebagai tukang ramal, seperti Jayabaya.
Pada jaman modern, pengetahuan manusia memang sudah merupakan hasil sintesis dari berbagai kebudayaan lama dan cross analysis dengan budaya yang datang dari luar negara yang bersangkutan. Dengan kemajuan teknologi dan perkembangan komunikasi, setiap pengetahuan akan mudah dipengaruhi oleh pengetahuan lain yang datang dari luar. Yang diperolehnya dari luar dianggap lebih modern. Demikian juga soal makanan, yang sebenarnya hanya memasukkan nama Kentucky Fried Chiken , ayamnya dari Indonesia, pegawainya orang Indonesia bumbunya sebagian besar dari bumi Indonesia, tetapi karena mereknya luar negeri maka dianggap lebih modern bergengsi daripada Ayam Mbok Berek.
Perkembangan semua pengetahuann tersebut sangat pesat. Makin banyak pengalaman, semakin mendorong manusia untuk mencari dan mengembangkannya dan makin banyak cabang dari pengetahuan tersebut. Perkembangan manusia tersebut mengakibatkan pesatnya kemajuan dalam ilmu pengetahuan manusia.
Bacon menekankan bahwa eksperimen dan observasi yang intensif merupakan landasan pengembangan ilmu. Kemudian dikenal Newton pada abad ke 16 sampai abad ke 17 yang telah meletakkan dasar penalaran ilmiah dari banyak disiplin ilmu dan mempunyai andil yang besar dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Jujun Suria Sumantri menyebutkan bahwa dewasa ini ilmu pengetahuan  telah berkembang menjadi sekitar 650 cabang. Disamping sudah ada pemberdayaan antara ilmu-ilmu alam atau natural science dengan ilmu-ilmu sosial, dikenal pula dengan pembedaan ilmu dan ilmu terapan.

2.3 Alternatif Metodologinya
Kedudukan metode penelitian dalam metode ilmiah dapat dikatakan hanya sebagian dari langkah sistematis dalam memperoleh ilmu, sebab metode penelitian baru merupakan proosedur sistematis dari bekerjanya pikiran atau logic yang hanya menghasilkan kesimpulan atau ketetapan-ketetapan rasional saja. Untuk menelusuri langkag-langkah sistematika keilmuan (metode ilmiah) secara tuntas, masih harus dilanjutkan dengan langkah-langkah sistematis pelaksanaan penelitian, yang di sebut teknik penelitian.
2.3.1.         Metode ilmiah
Metode ilmiah merupakan proosedur atau langkah-langkah sistematis dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu dengan langkah-langkah sistematis. Garis besar langkah-langkah sistematis keilmuan adalah sebagai berikut :
-          Mencari, merumuskan dan mengidentifikasi masalah
-          Menyusun kerangka (logical construct)
-          Merumuskan hipotesis (jawaban rasional terhadap masalah)
-          Menguji hipotesis secara empirik
-          Melakukan pembahasan
-          Menarik kesimpulan
Tiga langkah pertama merupakan metode penelitian, sedangkan langkah-langkah selanjutnya bersifat teknis penelitian. Dengan demikian maka pelaksanaan penelitian menyangkut dua hal yaitu hal metode dan hal teknis penelitian.
Mencari, merumuskan dan mengidentifikasi masalah yaitu menetapkan masalah penelitian, apa yang dijadikan masalah penelitian dan apa objeknya. Menyatakan objek penelitian saja masih belum spesifik, baru menyatakan pada ruang lingkup manusia penelitian akan bergerak. Sedangkan mengidentifikasi atau menyatakan masalah yang spesifik dilakukan dengan mengajukan pertanyaan  penelitian (research question), yaitu pertanyaan yang belum dapat memberi penjelasan yang memuaskan berdasar teori (hukum/dalil) yang ada.
Dengan mengidentifikasi situasi atau kondisi yang memungkinkan atau tidak memungkinkan secara lebih lanjut berarti telah merunuskan masalah penelitian.
Cara paling sederhana untuk menemukan pertanyaan penelitian adalah melalui data sekunder. Wujudnya berupa beberapa kemungkinan, misalnya :
-          Melihat suatu proses dari perwujudan teori
-          Melihat linkage dari proposisi suatu teori kemudian bermaksud memperbaikinya.
-          Merisaukan keberlakuan suatu dalil atau model di tempat tertentu atau pada waktu tertentu.
-          Melihat tingkat informatif value dari teori yang talah ada, kemudian bermaksud meningkatkannya.
-          Segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan teori yang telah ada atau belum dapat dijelaskan secara sempurna.
2.3.2.   Menyusun kerangka pikiran
Yaitu mengalirkan jalan pikiran  menurut kerangka yang logis atau menurut logical construct. Cara berpikir (nalar) ke arah memperoleh jawaban terhadap masalah yang diidentifikasi ialah penalaran yang berangkat dari hal yang umum (general) kepada hal-hal yang khusus (spesifik). Hal-hal umum ialah teori, sedangkan hal yang bersifat khusus (spesifik) tidak lain adalah masalah yang diidentifikasi itu.

2.3.3.   Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah kesimpulan yang diperoleh dan penyusunan kerangka pikiran, berupa proposisi deduksi. Merumuskan berarti membentuk proposisi yang sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan serta tingkat-tingkat kebenarannya. Jika dikaji kembali kalimat-kalimat proposisi, baik berupa teori maupun hipotesis, ternyata kalimat itu mengansung 3 komponen yaitu antiseden, konsekuen dan depedensi. Dua komponen depedensi merupakan sifat hubungan dari antiseden dan konsekuen (merupakan linkage dalam proposisi itu).
Dependensi mengandung arti bahwa hubungan antiseden dan konsekuen merupakan hubungan sebab-akibab yang benar. Konsekuen tergantung pada kebenaran antiseden. Antiseden yang tidak benar menyebabkan konsekuen yang tidak benar (tidak dependen).
Macam-macam hipotesis yaitu:
a.     Hipotesis Deskriptif
Hipotesis “lukisan”, menunjukkan dugaan sementara tentang bagaimana (how) benda-benda, peristiwa-peristiwa, atau vaiabel-variabel itu terjadi.
b.    Hipotesis argumentasi
Hipotesis “penjelasan”, menunjukkan dugaan sementara tentang mengapa (why) benda-benda, peristiwa-peristiwa, variabel-variabel itu terjadi. Hipotesis ini merupakan pernyataan sementara yang diatur secara sistematis sehingga salah satu pernyataan merupakan kesimpulan (konsekuen) dari pernyataan yang lainnya (antiseden).
c.          Hipotesis kerja
Hipotesis yang meramalkan/ menjelaskan akibat-akibat dari suatu variabel yang menjadi penyebabnya. Jadi hipotesis ini menjelaskan suatu ramalan bahwa jika suatu variabel berubah maka vriabel tertentu akan berubah pula.
d.         Hipotesis Nol
Hipotesis statistik, bertujuan memeriksa ketidakbenaran sebuah dalil (teori, yang selanjutnya akan ditolak melalui bukti-bukti yang sah. Karena hipotesis ini mempergunakan perangkat statistik) matematik maka disebut hipotesis statistik. Melalui prosedur ini maka kita membuat dugaan dengan hati-hati, bahwa menurut pendapat kita tidak ada hbungan yang berarti atau perbedaan yang signifikan dan selanjutnya kita mencoba memastikan ketidak mungkinan hipotesis ini. Jika ternyata hipotesis ini ditolak maka pekerjaan kita pindah ke hipotesis kerja (oleh karena itu hipotesis nol disebut kebalikan dari hipotesis kerja).
Menguji hipotesis ialah membandingkan/ menyesuaikan segala yang terkandung dalam hipotesis dengan data empirik. Pembandingan atau penyesuaian itu pada umumnya didasarkan pada pemikiran yang beranggapan bahwa di alam ini suatu peristiwa mungkin tidak terjadi secara tersendiri. Dengan kata lain, suatu sebab mungkin akan menimbulkan beberapa akibat atau mungkin pula suatu akibat ditimbulkan oleh beberapa penyebab. Menrut Jhon Stuart Mills, cara paling sederhana untuk mengetahui faktor penyebab timbulnya suatu akibat ialah dengan membandingkan berbagai peristiwa dalam suatu fenomena.
2.3.4.   Membahas dan menarik kesimpulan
Dalam membahas sudah termasuk pekerjaan interpretasi terhadap hal-hal yang ditemkan dalam penelitian. Dalam interpretasi, pikiran kita diarahkan pada dua titik pandang. Pertama, kerangka pikiran yang telah disusun, bahkan ini harus merupakan frame of work pembahasan penelitian. Kedua, pandangan diarahkan ke depan yaitu mengaitkan kepada veriabel dari topik aktual.
2.3.5.   Hasil pembahasan tidak lain adalah kesimpulan.
Kesimpulan penelitian adalah penemuan-penemuan dari hasil interpretasi dan pembahasan. Penemuan-penemuan dari interpretasi dan pembahasan harus merupakan jawaban pertanyaan penelitian sebagai masalah atau sebagai bukti dari penerimaan terhadap hipotesis yang diajukan. Pernyataan-pernyataan dalam kesimpulan dirumuskan dalam kalimat yang tegas dan padat, tersusun dari kata-kata yang baik dan pasti, sedemikian rupa sehin gga tidak menimbulkan tafsiran-tafsiran yang berbeda (apa yang dimaksud oleh si peneliti harus ditafsirkan sama oleh orang lain.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar