1. DIMENSI AKSIOLOGI
1.1.
Pengertian
Aksiologi
Aksiologi
berasal dari perkataan axios (yunani)
yang berarti nilai dan logos yang
berarti teori. Jadi aksiologi adalah “teori tentang nilai”
(Burhanuddin Salam, Logika Materil;
Filsafat Ilmu Pengetahuan,Jakarta:Reneka Cipta,1997, cet ke-1, hlm.168).
Dalam
Encyclopedia of Philosophy
dijelaskan, aksiologi disamakan dengan Value
and Valuation. Ada tiga bentuk Value
and Valuation.
a.
Nilai, digunakan sebagai kata benda
abstrak. Dalam pengertian yang lebih sempit seperti, baik, menarik dan bagus.
Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas mencakupi sebagai tambahan segala
bentuk kewajiban, kebenaran dan kesucian. Penggunaan nilai yang lebih luas,
merupakan kata benda asli untuk seluruh macam kritik atau predikat pro dan
kontra, sebagai lawan dar suatu yang lain dan ia berbeda dengan fakta. Teori
nilai atau aksiologi adalah bagian dari etika. Lewis menyebutkan sebagai alat
untuk mencapai beberapa tujuan, sebagai nilai instrumental atau menjadi baik
atau sesuatu menjadi menarik, sebagai nilai inheren atau kebaikan seperti
estetis dari sebuah karya seni, sebagai nilai intrinsic atau menjadi baik dalam
dirinya sendiri, sebagai nilai contributor atau nilai yang merupakan pengalaman
yang memberikan kontribusi.
b.
Nilai sebagai kata benda konkret.
Contohnya ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai, ia seringkali
dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai, seperti nilainya, nilai
dia, dan system nilai dia. Kemudian dipakai untuk apa-apa yang memiliki nilai
atau bernilai sebagaimana berlawanan dengan apa-apa yang tidak dianggap baik
atau bernilai.
c.
Nilai juga digunakan sebagai kata kerja
dalam ekspresi menilai, member nilai,
dan dinilai. Menilai umumnya sinonim dengan evaluasi ketika hal tersebut secara
aktif digunakan untuk menilai perbuatan. Dewey membedakan dua hal tentang
menilai, ia bias berarti menghargai dan mengevaluasi.
(Paul
Edwards,(ed), The Encylopedia of Philosophy, New York: Collier Macmillan
Publishers, 1967, Vol 7 ).
Objek formal etika adalah norma-norma
kesusilaan manusia, dan dapat dikatakan pula bahwa etika mempelajari tingkah
laku manusia ditinjau dari segi baik dantidak baik didalam suatu kondisi yang
normative, yaitu suatu kondisi yang melibatkan norma-norma. Sedangkan estetika
berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia
terhadap lingkungan dan fenomena di
sekelilingnya.
1.2.
KAJIAN
AKSILOGI
Prestasi
teknologis ilmu-ilmu alam modern sudah kita ketahui bersama. Kita hidup dijaman
produk-produk ilmiah: mobil,pesawat terbang,listrik,TV,plastik dan sebagainya.
Konsekuensi teknologi modern tidak selalu positif. Contohnya, energi atom
diiringi dengan tindak pemusnahan. Revolusi industri, yang memungkinkan
standart kehidupan kita sekarang,juga mengusung hujan buatan misalnya, yang
menghancurkan hutan kita, dan pada gilirannya juga mengotori udara yang kita
hirup.
Aksiologi
adalah studi tentang nilai atau kualitas. Aksiologi mencakup etika dan estetika
- bidang filsafat yang sangat terkait pada gagasan tentang nilai – dan
kadang-kadang disamakan dengan teori nilai dan meta-etika (pada pembahasan ini
ditambah dua bidang, yakni filsafat politik dan filsafat kebajikan yang juga
menyangkut nilai-nilai kemanusiaan pokok). Istilah ini berkembang abad ke-19
dan 20, tetapi pada dekade-dekade sekarang ini teori nilai cenderung
menggesernya dalam diskusi-diskusi sifat dalam dasar nilai atau kebaikan secara
umum. Aksiologi adalah ilmu tentang nilai. Kata “axiology” berasal dari bahasa
Yunani Kuno “axio” (berharga atau bernilai) dan “logos” (logika atau teori),
yang berarti teori nilai.
1.3.
Teori
Nilai
1.3.1.
Definisi
Nilai
Nilai,
dalam filsafat, adalah suatu prinsip atau standart untuk mempertimbangkan baik
buruknya sesuatu. Baik adalah sesuatu yang menyenangkan dan sesuai bagi maksud
tertentu, sedangkan buruk berarti yang tidak menyenangkan dan tidak sesuai bagi
maksud tertentu. Benar adalah kesesuaian putusan atau hasil kebaikan tertinggi
(dan tidak sekedar mendekati kebaikan), sedangkan salah berarti ketidak
sesuaian putusan atau hasil kebaikan tertinggi.
1.3.2.
Sumber
Nilai-nilai
Nilai-nilai
diturunkan dari maksud-maksud dan keinginan-keinginan. Keinginan adalah
hasrat-hasrat yang muncul dari muatan rasa senang dan rasa sakit.
Keinginan-keinginan tersebut bisa saja berbenturan antara satu dengan yang
lain, seiring dengan maksud dan kemampuan. Maksud adalah hasrat bagi tercapainya
tujuan tertentu. Kebahagiaan adalah kecenderungan manusia untuk mencapai
pemenuhan keinginan-keinginan dan hasrat-hasratnya.
Tujuan
tertinggi bagi sebagian besar umat manusia adalah keterjagaaan diri yang
menampak pada tiga hal:
1. Keberlangsungan
hidup personal: keberlanjutan tubuh, pikiran dan jiwa
2. Keberlangsungan
genetis: keberlanjutan keluarga
3. Keberlangsungan
memetic: keberlanjutan ingatan dan kreasi-kreasi
1.3.3.
Justifikasi
Nilai-nili
Manusia
tak memiliki bukti bahwa alam semesta ini
mempunyai tujuan inheren penciptaannya, sehingga alam tak mempunyai
tujuan yang dapat diharapkan menjadi basis nilai. Alam ini tidak bisa dikatakan
baik atau buruk, dan didalamnya tak ada keinginan atau kepentingan satu
makhlukpun yang menentukan keberadaannya.
Beberapa
kriteria untuk memilih nilai-nilai fundamental adalah melalui pendekatan-pendekatan:
1. Universalitas,
dalam aksiologi diartikan sebagai prinsip bahwa mempertahankan nilai
fundimental berarti mendukung pandangan tentang nilai yang serupa.
2. Imparsialitas,
dalam aksiologi diartikan sebagai prinsip bahwa nilai pokok tak dapat mendukung
sesuatu yang partikular lebih dari yang lainnya yang sejenis.
3. Maksimalitas,
dalam aksiologi diartikan sebagai prinsip bahwa jika suatu nilai itu
fundemental, maka terlalu banyak ketidak masuk akalan didalamnya.
4. Kompatibilitas,
dalam aksiologi diartikan sebagai prinsip bahwa nilai-nilai pokok harus relatif
sesuai dengan selera dan hasrat alamiah si penilai.
1.3.4.
Nilai-nilai
yang menonjol
1. Intelegensi
Kita tak hanya menghargai informasi dan pengetahuan,
teapi juga pemahaman, kearifan, dan khususnya itelegensi yang menghasilkan dan
memuat itu semua.
Pemahaman adalah pengetahuan yang pokok,
berulang dan kreatif, hal itu penting dan tidak dapat direduksi, mendukung dan
menyiratkan banyak pengetahuan derivatif lain, dan menentukan posisi diri yang
diketahui dan diri yang mengetahui dalam pengetahuan yang lain. Kreatif adalah
pemahaman dari maksud seseorang dan cara terbaik mencapainya.
2. Kehidupan
Kita menghargai kompleksitas dan
deversitas yang terorganisir yang terletak antara keteraturan yang sempurna dan
kekacauan yang acak. Sistem-sistem seperti kehidupan yang mengalami evolusi
karena seleksi alam adalah sumber terbaik kompleksitas dan diversitas yang
terorganisir itu.
3. Otonomi
Kehidupan membutuhkan otonomi untuk
mengejar kepentingan diri yang diperlukan untuk mempertahankan diri dan
lingkungannya. Intelegensi membutuhkan otonomi untuk mempersoalkan
asumsi-asumsi dan otoritas.
1.4.
Fungsi
Aksiologi
1.4.1.
Kegunaan
bagi ilmu dan teknologi
Hasil Ilmu Pendidikan adalah konsep-konsep
ilmiah tentang aspek-aspek dan dimensi-dimensi pendidikan sebagai salah satu
gejala kehidupan manusia. Pemahaman terhadap konsep-konsep ilmiah pendidikan
secara potensial mempunyai nilai kegunaan untuk mengembangkan isi dan metode
Ilmu Pendidikan. Di samping itu, secara potensial dapat pula membantu
meningkatkan wawasan dan keyakinan diri kita, baik sebagai ahli pendidikan atau
teoretikus pendidikan maupun sebagai praktisi pendidikan (pendidik dan
pengelola pendidikan). Dengan kata lain, secara potensial dapat turut serta
mengembangkan mutu profesional teoretikus dan praktisi pendidikan.
Ilmu Pendidikan memberikan sumbangan yang tidak
kecil terhadap perkembangan Ilmu-Ilmu Tingkah-Laku (Behavioral Sciences) dan/ atau Ilmu-ilmu sosial. Secara teoretis,
rentang lingkup dan wawasan Ilmu-ilmu tingkah-Laku dan/atau Ilmu-ilmu Sosial
diperluas dan diperkaya oleh konsep-konsep ilmiah pendidikan. Masuknya
pendidikan sebagai objek penyelidikan Ilmu-ilmu Tingkah-Laku dan atau ilmu-ilmu
sosial menyebabkan perubahan-perubahan yang berarti dalam
penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan dalam cabang-cabang ilmu yang menjadi
komponen-komponen ilmu-ilmu tingkah-laku dan atau ilmu-ilmu sosial.
Teknologi pendidikan berkenaan dengan keseluruhan
proses pendidikan pada dasarnya atas tiga tahap, yaitu
1) perncanaan,
2) pelaksanaan, dan
3)penilaian.
Oleh karena itu, secara konseptual teknologi
pendidikan mencakup:
1) Teknologi Perancangan pendidikan,
2) Teknologi Belajar-mengajar, dan
3) Teknologi evaluasi pendidikan.
Teknologi perancangan pendidikan terutama berkenaan
dengan prosedur-prosedur penyusunan dan pengembangan kurikulum. Teknologi
Belajar berkenaan dengan pengembangan yang berfungsi: 1) melibatkan motivasi
siswa, 2) meningkatkan kembali hasil belajar yang lama, 3) memberikan
rangsangan baru dalam belajar, 4) menggiatkan tanggapan siswa, 5) memberikan
balikan secara cepat, dan 6) mendorong timbulnya aktivitas yang tepat pada
siswa (Rowntree: 168). Teknologi mengajar, seperti dikemukakan oleh S. S.
Chauhan dalam Innovation in Teaching
Learning Process, mencakup: 1) Proses Belajar-Mengajar, 2) Model-model
Mengajar, 3) Rancangan-rancangan Pengajaran, 4) Pengajaran Mandiri, 5) Pengajaran
terprogram dan mesin mengajar, 6) Sistem Pengajaran yang berorientasi pada diri
pribadi (PSI atau Personalized System of
Instruction), 7) Pengajaran dengan Bantuan Komputer (CAI atau Computer Assisted Instruction), dan 8) Pengajaran yang
irama belajarnya diatur sendiri oleh Pelajar (LCI atau Learner-Controlled Instruction). Sedangkan teknologi
Evaluasi Pendidikan berkenaan dengan model-model evaluasi pendidikan.
1.4.2 Kegunaan
bagi Filsafat
Konsep-konsep ilmiah pendidikan sangat
berkaitan erat atau bahkan dapat dikatakan terpusat pada konsep tentang
manusia. Oleh karena itu, konsep-konsep ilmiah pendidikan secara potensial
turut mendorong berkembangnya pemikiran tentang hakikat manusia. Hal ini
mengandung arti turut mendorong berkembangnya filsafat tentang manusia atau
antropologi filsafat, yang membahas tentang hakikat manusia idaman atau manusia
ideal. Sehubungan dengan ini, lahirlah konsep-konsep tentang hakikat manusia
sebagai: animal rasionale, animal
sosiale, animal symbolicus, homo sapiens, homo economicus, homo homini lupus,
homo ludens, dan sebagainya. Di samping itu, konsep-konsep ilmiah tentang
pendidikan turut pula mendorong berkembangnya pemikiran tentang hakikat anak
manusia. Hal ini mengandung arti turut mendorong berkembangnya filsafat tentang
anak manusia (Langeveld menyebutnya antropologi anak), yang membahas tentang
siapa sebenarnya anak manusia itu. Sehubungan dengan hal ini, misalnya telah
berkembang konsep-konsep bahwa: anak lahir membawa dosa asal, anak lahir
sebagai tabula rasa, anak lahir tidak berdaya tapi membawa potensi-potensi
tertentu, anak lahir baik atau anak lahir membawa benih-benih yang baik, anak
lahir terbelenggu atau terpenjara oleh hal-hal yang bersifat fisik, dan
sebagainya. Baik Antropologi filsafat maupun antropologi filsafat anak tertuju
pada pembahasan tentang animal educandum, yaitu manusia yang mungkin dan harus
dididik dan mendidik. Dengan kata lain membahas tentang batas-batas kemungkinan
dan keharusan pendidikan, baik yang berhubungan dengan ruang dan waktu maupun
kemampuan mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.
1.5.
Objek
kajian Aksiologi
1.3.1
Metaphysica Generalis / Metafisika Umum
Berbeda dengan metaphysica specialis ,
metafisika khusus atau khususnya. Perbedaan ini dapat ditelusuri kembali ke
metafisika Aristoteles . Aristoteles sendiri dimaksud dengan meta - fisika
sebagai filsafat pertama atau sophia ( kebijaksanaan) , Artinya, ilmu penyebab
utama dan prinsip-prinsip . Kadang-kadang saya Kata metafisika Itu adalah ilmu
yang qua makhluk dan Itu Inkuiri Menyediakan titik awal untuk semua ilmu-ilmu
lain . Di tempat lain saya memegang metafisika itu berkaitan dengan jenis
khusus menjadi Yang melampaui zat yang masuk akal , Yaitu Allah , dan Bahwa
MAKA teologi . Para filsuf abad pertengahan yang disebut Kedua rekening
metafisika Masing metaphysica metaphysica generalis dan specialis . Aristoteles
Diyakini Bahwa Ini Dua rekening metafisika dapat didamaikan , namun tidak
menawarkan argumen yang meyakinkan untuk kesimpulan itu. Masalah berurusan
Dengan ini dua account telah Mengingat menimbulkan diskusi utama dalam beasiswa
Aristotelian dan sangat Mempengaruhi pemahaman kita tentang metafisika .
Pembedaan ini telah ditahan dalam perkembangan selanjutnya metafisika , tetapi
maknanya bervariasi . Pada abad XVII dan XVIII , telah diidentifikasi dengan
metafisika ontologi keseluruhan , que umumnya terkait dengan konsep , sedangkan
metafisika khusus Diidentifikasi dengan teologi alamiah .
1.3.2
Cosmologia
adalah studi tentang
alam semesta secara keseluruhan, yang meliputi teori-teori pada asal, evolusi, struktur skala besar dan masa depannya.
1.3.3
Anthropologia Filosofica
Antropologi filosofis dapat dipahami dalam beberapa
cara. Salah satunya adalah studi filosofis manusia dikembangkan selama
berabad-abad dan saat ini subjek perhatian filsuf. Cara lain untuk memahami
ekspresi akan lebih terbatas, dan berlaku untuk gerakan atau aliran pemikiran
yang didirikan di Jerman pada tahun 1920 dan 1930, filsuf, antropolog dan
sosiolog. Gerakan ini memiliki pengaruh yang menentukan pada lanskap
intelektual Jerman abad kedua puluh.
1.3.4
Filsafat Biologiear
Istilah Biologi berasal dari kata yunani bios yang
berarti kehidupan dan logos yang berarti pengetahuan. Jadi biologi adalah ilmu
pengetahuan tentang kehidupan. Kehidupan adalah bagian dari alam, sehingga
biologi adalah bagian dari ilmu alam (Sains). Objek kajian Bilogi adalah
mempelajari tentang kehidupan pada berbagai tingkat organism. Tingkat organism
kehidupan tersebut meliputi sel, jaringan,, organ, sistem organ, individu,
populasi, komunitas, ekosistem bahkan juga tingkah laku yang lebih tinggi yaitu
Biosfer.
1.3.5
Filsafat Psichologi
Filsafat
psikologi mengacu pada isu-isu di fondasi teoritis psikologi modern. Beberapa
isu-isu keprihatinan epistemologis tentang metodologi investigasi psikologis.
Sebagai contoh:
* Apa yang merupakan metodologi yang paling tepat untuk psikologi: mentalisme, behaviorisme, atau kompromi?
* Apakah laporan diri suatu metode pengumpulan data yang dapat diandalkan?
* Apa kesimpulan yang bisa ditarik dari uji hipotesis nol?
* Dapat pengalaman orang pertama (emosi, keinginan, keyakinan, dll) diukur secara obyektif?
Isu-isu lain dalam filsafat psikologi adalah pertanyaan filosofis tentang sifat dari pikiran, otak, dan kognisi, dan mungkin lebih sering dianggap sebagai bagian dari ilmu pengetahuan kognitif, atau filsafat pikiran
* Apa yang merupakan metodologi yang paling tepat untuk psikologi: mentalisme, behaviorisme, atau kompromi?
* Apakah laporan diri suatu metode pengumpulan data yang dapat diandalkan?
* Apa kesimpulan yang bisa ditarik dari uji hipotesis nol?
* Dapat pengalaman orang pertama (emosi, keinginan, keyakinan, dll) diukur secara obyektif?
Isu-isu lain dalam filsafat psikologi adalah pertanyaan filosofis tentang sifat dari pikiran, otak, dan kognisi, dan mungkin lebih sering dianggap sebagai bagian dari ilmu pengetahuan kognitif, atau filsafat pikiran
Filsafat
psikologi adalah bidang yang relatif muda karena 'ilmiah' psikologi-yaitu
psikologi yang nikmat metode eksperimental selama introspeksi - mendominasi
studi psikologis hanya di akhir abad kesembilan belas. Salah satu filsafat
keprihatinan psikologi adalah untuk mengevaluasi manfaat dari sekolah yang
berbeda dari psikologi yang telah dan dipraktekkan. Misalnya, gunakan psikologi
kognitif tentang keadaan mental internal bisa dibandingkan dengan behaviorisme,
dan alasan penolakan luas behaviorisme pada pertengahan abad kedua puluh
diperiksa.
1.3.6
Filsafat Sosiologie
Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan manusia dengan lingkungannya.
Pada postingan Pengertian dan Penjelasan tentang sosiologi ini, akan ada banyak
hal yang saya bahasadalah tentang Pengertian sosiologi, sejarah lahirnya
sosiologi, dan objek studi sosiologi. Agar lebih paham pada beberapa pokok
pembahasan tersebut, alangkah lebih baik jika sobat mau membaca penjelasan ini
sejenak. Sosiologi merupakan ilmu yang relatif baru jika dibandingkan dengan
ilmu lainnya (seperti fisika,biologi,geografi, dan lainnya).
1.3.7
Epistimologi
Epistemologi adalah teori atau ilmu
pengetahuan tentang metode dan dasar-dasar pengetahuan, khususnya yang
berhubungan dengan batas-batas pengetahuan dan validitas atau sah berlakunya
pengetahuan itu. (Darwis. A. Soelaiman, 2007, hal. 61).
Epistemologi atau Filsafat pengetahuan merupakan salah satu
cabang filsafat yang mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Apabila kita
berbicara mengenai filsafat pengetahuan, yang dimaksud dalam hal ini adalah
ilmu pengetahuan kefilsafatan yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan
tentang hakikat pengetahuan.
Jacques Veuger mengemukakan, epistemologi adalah pengetahuan
tentang pengetahuan dan pengetahuan yang kita miliki tentang pengetahuan kita
sendiri bukannya pengetahuan orang lain tentang pengetahuan kita, atau
pengetahuan yang kita miliki tentang pengetahuan orang lain. Pendek kata
Epistemologi adalah pengetahuan kita yang mengetahui pengetahuan kita.
1.3.8
Filsafat Etica
Etika berasal dari bahasa yunani Ethos
(tunggal) atau etha (Jamak) yang berarti watak, kebiasaan dan adat istiadat.
Pengertian ini berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri
seseorang maupun suatu masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi
yang lain. Pengertian etika identik dengan pengertian moralitas. Moralitas
berasal dari bahasa latin, mos (tunggal) atau mores (jamak) yang berarti adat
istiadat atau kebiasaan. Jadi atika dan moralitas mempunyai arti yang sama
sebagai sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup baik yang kemudian
terwujud dalam pola perilaku yang konstan dan terulang dalam kurun waktu sehingga
menjadi sebuah kebiasaan.
1.3.9
Filsafat Estetika
Filsafat estetika adalah cabang ilmu
yang membahas tentang keindahan . bagaimana keindahan bisa tercipta dan
bagaimana orag bisa merasakannya dan bisa memberi penilaian terhadap keindahan
tersebut.
1.3.10 Theodicea (teologi naturalis)
membicarakan
Tuhan. Apanya? Banyak. Apakah Tuhan itu ada? Bukti-buktinya apa? Sifatnya,
susunannya, kemauannya, dan lain-lain. Kalau menurut Aristoteles bukti bahwa
Tuhan itu ada adalah bahwa Tuhan itu penyebab gerak (cause of motion).
2. Pengembangan Teori/Ilmu dan
Alternatif Metodologinya
2.1 Pengertian Ilmu/Teori dan
Pengetahuan
Ilmu
adalah pengetahuan, tetapi tidak semua pengetahuan adalah ilmu. Pengetahuan
dapat menjawab pertanyaan tentang apa,
sedangkan ilmu dapat menjawab pertanyaan tentang mengapa dari kenyataan/kejadian. Sehingga bisa disimpulkan bahwa :
§ pengetahuan
adalah pembentukan pemikiran asosiatif yang menghubungkan atau menjalinkan
sebuah pikiran dengan kenyataan atau dengan pikiran lain berdasarkan pengalaman
yang berulang-ulang tanpa pemahaman mengenai kausalitas (sebab-akibat) yang
hakiki dan universal (Soetriono,2007).
§ Sementara
ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang menjelaskan kausalitas (hubungan
sebab-akibat) dari suatu objek menurut metode-metode tertentu yang merupakan
suatu kesatuan sistematis (Rita,2007).
2.2 Perkembangan Pengetahuan
Pada tahap pertama manusia memperoleh
pengetahuan melalui pengamatan, kemudian membeda-bedakan, diikuti dengan upaya
memilih, yang pada akhirnya melakukan percobaan. Tetapi dalam masa prasejarah,
percobaan yang dilakukan masih bersifat trial
and error. Pada masa ini pengetahuan manusia lebih banyak diperoleh dari
alam sekitar, kadang-kadang secara kebetulan. Makanan, minuman, dan pakaian,
semuanya bergantung pada alam. Bilamana di suatu tempat apa yang diperlukan itu
habis maka mereka pindah ke tempat lain.
Dari pengalamannya sehari-hari manusia
kemudian memahami bahwa makanan itu tidak hanya bergantung pada alam, tetapi
bisa dibuat sendiri. Dari situ manusia mulai mencoba menanam tumbuh-tumbuhan
yang menghasilkan makanan seperti yang mereka peroleh dari alam sekitarnya.
Binatang yang biasanya diburu atau dicari langsung kemudian dicoba untuk
memeliharanya melalui penjinakan binatang-binatang hasil buruaan. Berkembanglah
pengetahuan manusia dengan apa yang disebut bercocok tanam atau pertanian,
peternakan pembuatan makanan, pembuatan alat-alat makanan, pembuatan pakaian,
dan lain sebagainya.
Dalam masa sejarah yang dimulai kurang
lebih 15.000 sampai dengan 600 tahun Sebelum Masehi, pengetahuan manusia telah
berkembang lebih maju. Pada masa ini manusia telah mengenal membaca, menulis,
dan berhitung. Kebudayaan manusia pun mulai berkembang diberbagai tempat tertentu.
Antara lain dikenal kebudayaan Mesir di Afrika, Sumeria, Babilonia, Niniveh dan
Tiongkok di Asia, Maya dan Inca di Amerika Tengah. Manusia sudah bisa
menghitung dan mengenal angka.
Pada jaman Yunani Kuno perkembangan ilmu
secara pesat terjadi disana. Karakteristik penalaran dari bangsa Yunani Kuno di
pengaruhi oleh sikap mereka yang memandang manusia sebagai makhluk luhur yang
punya kebebasan. Manusia mempunyai kebebasan untuk berpikir dan berbuat sesuai
dengan keyakinan yang dimilikinya. Tokoh-tokoh pemikir yang telah meletakkan
dasar filsafat ilmu pada masa ini antara lain Aristoteles yang merupakan
pelopor utama logika deduktif. Dalam bukunya ia mengemukakan tentang analisis
yang berupa silogisme yang terdiri dari tiga kalimat, premis mayor yang bersifat
umum, premis minor yang bersifat khusus dan dari kedua premis tersebut ditarik
sebuah kesimpulan.
Premis
mayor : semua manusia akan mati
Premis
minor : sokrates manusia
Kesimpulan
: sokrates akan mati
Jika premis mayor dan premis minor
benar, maka kesimpulan pasti benar.
Menurut Duverger,
filsafat ilmu dalam abad pertengahann lebih banyak dipengaruhi oleh agama dan
moral. Di Indonesia pengetahuan manusia sudah berkembang sejak jaman kerajaan.
Dengan adanya kerajaan tersebut maka Indonesia sudah lama mengenal dan
mempunyai pengetahuan tentang mengatur negara dan masyarakat. Dalam pertanian
sudah lama mengenal pengairan sawah, peternakan yang juga digunakan untuk
kepentingan transportasi, pertanian, dan berbagai macam kerajinan dari tanah
liat, kayu dan logam, menggambar dan musik. Nenek moyang bangsa Indonesia
terkenal sebagai pelaut atau ahli maritim, navigasi serta pembuatan perahu dan
juga terkenal sebagai tukang ramal, seperti Jayabaya.
Pada jaman modern, pengetahuan manusia
memang sudah merupakan hasil sintesis dari berbagai kebudayaan lama dan cross analysis dengan budaya yang datang
dari luar negara yang bersangkutan. Dengan kemajuan teknologi dan perkembangan
komunikasi, setiap pengetahuan akan mudah dipengaruhi oleh pengetahuan lain
yang datang dari luar. Yang diperolehnya dari luar dianggap lebih modern.
Demikian juga soal makanan, yang sebenarnya hanya memasukkan nama Kentucky Fried Chiken , ayamnya dari
Indonesia, pegawainya orang Indonesia bumbunya sebagian besar dari bumi
Indonesia, tetapi karena mereknya luar negeri maka dianggap lebih modern
bergengsi daripada Ayam Mbok Berek.
Perkembangan semua pengetahuann tersebut
sangat pesat. Makin banyak pengalaman, semakin mendorong manusia untuk mencari
dan mengembangkannya dan makin banyak cabang dari pengetahuan tersebut.
Perkembangan manusia tersebut mengakibatkan pesatnya kemajuan dalam ilmu
pengetahuan manusia.
Bacon menekankan bahwa eksperimen dan
observasi yang intensif merupakan landasan pengembangan ilmu. Kemudian dikenal
Newton pada abad ke 16 sampai abad ke 17 yang telah meletakkan dasar penalaran
ilmiah dari banyak disiplin ilmu dan mempunyai andil yang besar dalam
perkembangan ilmu dan teknologi. Jujun Suria Sumantri menyebutkan bahwa dewasa
ini ilmu pengetahuan telah berkembang
menjadi sekitar 650 cabang. Disamping sudah ada pemberdayaan antara ilmu-ilmu
alam atau natural science dengan
ilmu-ilmu sosial, dikenal pula dengan pembedaan ilmu dan ilmu terapan.
2.3
Alternatif Metodologinya
Kedudukan metode penelitian dalam metode ilmiah
dapat dikatakan hanya sebagian dari langkah sistematis dalam memperoleh ilmu,
sebab metode penelitian baru merupakan proosedur sistematis dari bekerjanya
pikiran atau logic yang hanya menghasilkan kesimpulan atau ketetapan-ketetapan
rasional saja. Untuk menelusuri langkag-langkah sistematika keilmuan (metode
ilmiah) secara tuntas, masih harus dilanjutkan dengan langkah-langkah
sistematis pelaksanaan penelitian, yang di sebut teknik penelitian.
2.3.1. Metode ilmiah
Metode
ilmiah merupakan proosedur atau langkah-langkah sistematis dalam mendapatkan
pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan
melalui metode ilmiah. Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui
sesuatu dengan langkah-langkah sistematis. Garis besar langkah-langkah
sistematis keilmuan adalah sebagai berikut :
-
Mencari, merumuskan dan mengidentifikasi
masalah
-
Menyusun kerangka (logical construct)
-
Merumuskan hipotesis (jawaban rasional
terhadap masalah)
-
Menguji hipotesis secara empirik
-
Melakukan pembahasan
-
Menarik kesimpulan
Tiga
langkah pertama merupakan metode penelitian, sedangkan langkah-langkah
selanjutnya bersifat teknis penelitian. Dengan demikian maka pelaksanaan
penelitian menyangkut dua hal yaitu hal metode dan hal teknis penelitian.
Mencari,
merumuskan dan mengidentifikasi masalah yaitu menetapkan masalah penelitian,
apa yang dijadikan masalah penelitian dan apa objeknya. Menyatakan objek
penelitian saja masih belum spesifik, baru menyatakan pada ruang lingkup manusia
penelitian akan bergerak. Sedangkan mengidentifikasi atau menyatakan masalah
yang spesifik dilakukan dengan mengajukan pertanyaan penelitian (research question), yaitu pertanyaan yang belum dapat memberi
penjelasan yang memuaskan berdasar teori (hukum/dalil) yang ada.
Dengan
mengidentifikasi situasi atau kondisi yang memungkinkan atau tidak memungkinkan
secara lebih lanjut berarti telah merunuskan masalah penelitian.
Cara
paling sederhana untuk menemukan pertanyaan penelitian adalah melalui data
sekunder. Wujudnya berupa beberapa kemungkinan, misalnya :
-
Melihat suatu proses dari perwujudan
teori
-
Melihat linkage dari proposisi suatu teori kemudian bermaksud
memperbaikinya.
-
Merisaukan keberlakuan suatu dalil atau
model di tempat tertentu atau pada waktu tertentu.
-
Melihat tingkat informatif value dari
teori yang talah ada, kemudian bermaksud meningkatkannya.
-
Segala sesuatu yang tidak dapat
dijelaskan dengan teori yang telah ada atau belum dapat dijelaskan secara
sempurna.
2.3.2. Menyusun kerangka pikiran
Yaitu
mengalirkan jalan pikiran menurut
kerangka yang logis atau menurut logical
construct. Cara berpikir (nalar) ke arah memperoleh jawaban terhadap
masalah yang diidentifikasi ialah penalaran yang berangkat dari hal yang umum
(general) kepada hal-hal yang khusus (spesifik). Hal-hal umum ialah teori,
sedangkan hal yang bersifat khusus (spesifik) tidak lain adalah masalah yang
diidentifikasi itu.
2.3.3. Merumuskan hipotesis
Hipotesis
adalah kesimpulan yang diperoleh dan penyusunan kerangka pikiran, berupa
proposisi deduksi. Merumuskan berarti membentuk proposisi yang sesuai dengan
kemungkinan-kemungkinan serta tingkat-tingkat kebenarannya. Jika dikaji kembali
kalimat-kalimat proposisi, baik berupa teori maupun hipotesis, ternyata kalimat
itu mengansung 3 komponen yaitu antiseden, konsekuen dan depedensi. Dua
komponen depedensi merupakan sifat hubungan dari antiseden dan konsekuen
(merupakan linkage dalam proposisi
itu).
Dependensi
mengandung arti bahwa hubungan antiseden dan konsekuen merupakan hubungan
sebab-akibab yang benar. Konsekuen tergantung pada kebenaran antiseden.
Antiseden yang tidak benar menyebabkan konsekuen yang tidak benar (tidak
dependen).
Macam-macam hipotesis yaitu:
a. Hipotesis Deskriptif
Hipotesis “lukisan”, menunjukkan
dugaan sementara tentang bagaimana (how)
benda-benda, peristiwa-peristiwa, atau vaiabel-variabel itu terjadi.
b. Hipotesis argumentasi
Hipotesis “penjelasan”,
menunjukkan dugaan sementara tentang mengapa (why) benda-benda, peristiwa-peristiwa, variabel-variabel itu
terjadi. Hipotesis ini merupakan pernyataan sementara yang diatur secara
sistematis sehingga salah satu pernyataan merupakan kesimpulan (konsekuen) dari
pernyataan yang lainnya (antiseden).
c.
Hipotesis
kerja
Hipotesis yang
meramalkan/ menjelaskan akibat-akibat dari suatu variabel yang menjadi
penyebabnya. Jadi hipotesis ini menjelaskan suatu ramalan bahwa jika suatu
variabel berubah maka vriabel tertentu akan berubah pula.
d.
Hipotesis
Nol
Hipotesis statistik,
bertujuan memeriksa ketidakbenaran sebuah dalil (teori, yang selanjutnya akan
ditolak melalui bukti-bukti yang sah. Karena hipotesis ini mempergunakan
perangkat statistik) matematik maka disebut hipotesis statistik. Melalui
prosedur ini maka kita membuat dugaan dengan hati-hati, bahwa menurut pendapat
kita tidak ada hbungan yang berarti atau perbedaan yang signifikan dan
selanjutnya kita mencoba memastikan ketidak mungkinan hipotesis ini. Jika
ternyata hipotesis ini ditolak maka pekerjaan kita pindah ke hipotesis kerja
(oleh karena itu hipotesis nol disebut kebalikan dari hipotesis kerja).
Menguji
hipotesis ialah membandingkan/ menyesuaikan segala yang terkandung dalam
hipotesis dengan data empirik. Pembandingan atau penyesuaian itu pada umumnya
didasarkan pada pemikiran yang beranggapan bahwa di alam ini suatu peristiwa
mungkin tidak terjadi secara tersendiri. Dengan kata lain, suatu sebab mungkin
akan menimbulkan beberapa akibat atau mungkin pula suatu akibat ditimbulkan
oleh beberapa penyebab. Menrut Jhon Stuart Mills, cara paling sederhana untuk
mengetahui faktor penyebab timbulnya suatu akibat ialah dengan membandingkan
berbagai peristiwa dalam suatu fenomena.
2.3.4. Membahas dan menarik kesimpulan
Dalam
membahas sudah termasuk pekerjaan interpretasi terhadap hal-hal yang ditemkan
dalam penelitian. Dalam interpretasi, pikiran kita diarahkan pada dua titik
pandang. Pertama, kerangka pikiran yang telah disusun, bahkan ini harus
merupakan frame of work pembahasan
penelitian. Kedua, pandangan diarahkan ke depan yaitu mengaitkan kepada
veriabel dari topik aktual.
2.3.5. Hasil pembahasan tidak lain adalah
kesimpulan.
Kesimpulan
penelitian adalah penemuan-penemuan dari hasil interpretasi dan pembahasan.
Penemuan-penemuan dari interpretasi dan pembahasan harus merupakan jawaban
pertanyaan penelitian sebagai masalah atau sebagai bukti dari penerimaan
terhadap hipotesis yang diajukan. Pernyataan-pernyataan dalam kesimpulan
dirumuskan dalam kalimat yang tegas dan padat, tersusun dari kata-kata yang
baik dan pasti, sedemikian rupa sehin gga tidak menimbulkan tafsiran-tafsiran
yang berbeda (apa yang dimaksud oleh si peneliti harus ditafsirkan sama oleh
orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar