my Photo

my Photo

Sabtu, 21 Desember 2013

PINTAKU PADAMU




"...PINTAKU PADAMU..."


Tuhan inikah balasan dari dosa yang harus kutanggung...
Inikah azab yang kau Limpahkan padaku akibat kelakuanku selama ini..
Atau Mungkinkah ini semua wujud kasih sayangmu, Cintamu dan Perhatianmu terhadapku..
Sungguh rasa sakit ini begitu menyiksa..
Bukan hanya aku yang tengah terluka. Ku tak sanggup melihat orangtuaku menitihkan airmatanya karna melihatku terbaring tak berdaya…
Aku letih.. aku bosan…. aku malu, dan aku tak berdaya
Sisa hidupku seakan hanya menyusahkan orang lain yang berdiri disampingku…
Tidakkah lebih baik kau ambil nyawaku tuhan…
Agar tak ada lagi butiran air mata yang terjatuh…
Namun bila kau tak rela..
Maka izinkan aku untuk memperbaiki ini semua…
Sungguh aku taksanggup…

Kadang kita lupa bahwa sehat adalah sebuah nikmat yang telah diberikan oleh allah pada kita, dan kita enggan mengucapkan syukur dan memanfaatkannya sebaik mungkin untuk kebaikan, kita lupa akan segala karunianya dikala kita bahagia dan dapat tertawa lepas. Kita akan menyadari itu semua dikala kita dalam posisi terluka, menderita, sengsara dan merasa kebahagiaan menjauh dari hidup kita. Itulah manusia.
Kita tak pernah sadar bahwa Allah senantiasa menguji umatnya dengan berbagai cara, baik dalam kesengsaraan ataupun dalam kebahagiaan, kita juga tak pernah tau kapan malaikat izrail menghampiri kita. Jangan sampai kau menyesali itu semua dikala nafas yang tersisa hanya tinggal di ujung kerongkongan. Sungguh celaka bila itu terjadi.
Jadi selagi allah memberikan kita nikmat berupa sehat, mari manfaatkannya sebaik mungkin selagi masih ada waktu, jangan sampai kita terlambat.


Sebiru Hari Ini Edcoustic

TEORI KEBUTUHAN ABRAHAM H. MASLOW


TEORI KEBUTUHAN ABRAHAM H. MASLOW
1.     Abraham Maslow
Abraham Harold Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 April 1908. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi Rusia dengan orangtua yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.  Pada masa kecilnya, ia dikenal sebagai anak yang kurang berkembang dibanding anak lain sebayanya. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang anak Yahudi yang tumbuh dalam lingkungan yang mayoritas dihuni oleh non Yahudi.

2.     Teori Humanistik dan Aktualisasi Diri
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :

A. Kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex;
B. Kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual;
C. Kebutuhan akan kasih sayang (love needs);
D. Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan
E. Aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzaXyeC6i4yi3LCGpLsZXQbUU1eJn9OSiOT1niWnE_4KyJk2b41tLucl7Q9vIEByTIacgTdKgkCJeElBKnQpoxf0VwYpHATgO5Y_envb5eRlnnVKXrIP4nHQHPcdPeaRhKCe0CYTC9pBBV/s320/teori+maslow.jpg

                     







Interpretasi dari Hirarki Kebutuhan Maslow yang direpresentasikan dalam bentuk piramida dengan kebutuhan yang lebih mendasar ada di bagian paling bawah. Seseorang harus mencapai aktualisasi diri secara bertahap.


1)    Kebutuhan Fisiologis
Pada tingkat yang paling bawah, terdapat kebutuhan yang bersifat fisiologik (kebutuhan akan udara, makanan, minuman dan sebagainya) yang ditandai oleh kekurangan (defisi) sesuatu dalam tubuh orang yang bersangkutan. Kebutuhan ini dinamakan juga kebutuhan dasar (basic needs) yang jika tidak dipenuhi dalam keadaan yang sangat estrim (misalnya kelaparan) bisa manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri karena seluruh kapasitas manusia tersebut dikerahkan dan dipusatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya itu. Sebaliknya, jika kebutuhan dasar ini relatif sudah tercukupi, muncullah kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman (safety needs).
2)     Kebutuhan Rasa Aman
Jenis kebutuhan yang kedua ini berhubungan dengan jaminan keamanan, stabilitas, perlindungan, struktur, keteraturan, situasi yang bisa diperkirakan, bebas dari rasa takut dan cemas dan sebagainya.  Karena adanya kebutuhan inilah maka [[manusia[[ membuat peraturan, undang-undang, mengembangkan kepercayaan, membuat sistem, asuransi, pensiun dan sebagainya.  Sama halnya dengan basic needs, kalau safety needs ini terlalu lama dan terlalu banyak tidak terpenuhi, maka pandangan seseorang tentang dunianya bisa terpengaruh dan pada gilirannya pun perilakunya akan cenderung ke arah yang makin negatif.
3)     Kebutuhan Dicintai dan Disayangi
Setelah kebutuhan dasar dan rasa aman relatif dipenuhi, maka timbul kebutuhan untuk dimiliki dan dicintai (belongingness and love needs). Setiap orang ingin mempunyai hubungan yang hangat dan akrab, bahkan mesra dengan orang lain.  Ia ingin mencintai dan dicintai. Setiap orang ingin setia kawan dan butuh kesetiakawanan.  Setiap orang pun ingin mempunyai kelompoknya sendiri, ingin punya "akar" dalam masyarakat.  Setiap orang butuh menjadi bagian dalam sebuah keluarga, sebuah kampung, suatu marga, dll.  Setiap orang yang tidak mempunyai keluarga akan merasa sebatang kara, sedangkan orang yang tidak sekolah dan tidak bekerja merasa dirinya pengangguran yang tidak berharga.  Kondisi seperti ini akan menurunkan harga diri orang yang bersangkutan.
4)     Kebutuhan Harga Diri
Di sisi lain, jika kebutuhan tingkat tiga relatif sudah terpenuhi, maka timbul kebutuhan akan harga diri (esteem needs).  Ada dua macam kebutuhan akan harga diri. Pertama, adalah kebutuhan-kebutuhan akan kekuatan, penguasaan, kompetensi, percaya diri dan kemandirian. Sedangkan yang kedua adalah kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, kebanggaan, dianggap penting dan apresiasi dari orang lain.  Orang-orang yang terpenuhi kebutuhannya akan harga diri akan tampil sebagai orang yang percaya diri, tidak tergantung pada orang lain dan selalu siap untuk berkembang terus untuk selanjutnya meraih kebutuhan yang tertinggi yaitu aktualisasi diri (self actualization).

5)     Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang terdapat 17 meta kebutuhan yang tidak tersusun secara hirarki, melainkan saling mengisi. Jika berbagai meta kebutuhan tidak terpenuhi maka akan terjadi meta patologi seperti apatisme, kebosanan, putus asa, tidak punya rasa humor lagi, keterasingan, mementingkan diri sendiri, kehilangan selera dan sebagainya.
*    Meta Kebutuhan
Menurut Maslow, meta kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri terdiri dari:
·        Kebenaran
·        Kebaikan
·         Keindahan atau kecantika
·         Keseluruhan (kesatuan)
·        Dikotomi-transedensi
·        Berkehidupan (berproses, berubah tetapi tetap pada esensinya)
·        Keunikan
·        Kesempurnaan
·        Keniscayaan
·        Penyelesaian
·        Keadilan
·        Keteraturan
·         Kesederhanaan
·        Kekayaan (banyak variasi, majemuk, tidak ada yang tersembunyi, semua sama penting)
·        Tanpa susah payah (santai, tidak tegang)
·        Bermain (fun, rekreasi, humor)
·        Mencukupi diri sendiri


*    Meta Patologi
Jika berbagai meta kebutuhan tidak terpenuhi maka akan terjadi meta patologi seperti:
·        Apatisme
·        Kebosanan
·        Putus asa
·        Tidak punya rasa humor lagi
·        Keterasingan
·        Mementingkan diri sendiri
·        Kehilangan selera dan sebagainya

A.   PERMASALAHAN YANG TERDAPAT DALAM TEORI KEBUTUHAN ABRAHAM H. MASLOW

Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.
Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”.
Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.
Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam  penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :
*    Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;
*    Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser  dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.
*    Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.
Pada perkembangannya, teori ini juga mendapatkan kritik. Hal ini dikarenakan adanya sebuah loncatan pada piramida kebutuhan Maslow yang paling tinggi, yaitu kebutuhan mencapai aktualisasi diri. Kebutuhan itu sama sekali berbeda dengan keempat kebutuhan lainnya, yang secara logika mudah dimengerti.  Seakan-akan ada missing link antara piramida ke-4 dengan puncak piramida. Seolah-olah terjadi lompatan logika.  Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif..










Referensi