my Photo

my Photo

Minggu, 05 Januari 2014

PENGAWASAN PROGRAM (Menejemen PLS)

PENGAWASAN PROGRAM 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Pada saat ini banyak sekali kegiatan organisasi yang gagal ditengah jalan seperti program PAUD dan diklat/pelatihan yang tidak dapat terlaksanan dengan baik (tidak sesuai dengan tujuan yang diinginkan). Kegagalan yang terjadi bisa dari bebrapa factor baik itu perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian, dan fungsi manajemen lainnya yang tidak diterapkan dengan baik. setiap kegiatan membutuhkan pengawasan sebagai kontroling kegiatan tersebuat agar bisa mengetahui sejauh mana kegiatan itu berjalan, jika tanpa ada pengawasan maka suatu kegiatan akan tidak sesuai dengan tujuan (bisa keluar dari perencanaan awal). Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen yang berupa kegiatan memantau untuk mengamati pelaksanaan seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi atau komponen-komponen organisasi yang meliputi sasaran, proses, hasil, dan pengaruh dari program tersebut agar dapat mencapai tujuan yang akan dicapai.
Di dalam proses pembelajaran PAUD atau program PAUD dibutuhkan fungsi-fungsi manajemen dan pengawasan merupakan fungsi lanjutan yang harus selalu dilaksanakan setiap kegiatan PAUD berlangsung. Pengawasan di PAUD harus selalu ada agar pembelajaran di PAUD dapat berkembang sesuai tujuan. Begitu juga degan pelatihan/diklat, pengawasan harus dilakukan pada setiap pelaksanaan pelatihan agar pelatihan dapat bermanfaat bagi peserta dan semua anggota yang terkait. Tetapi pada kenyataannya masih banyak program PAUD dan Diklat/PAUD yang tidak berjalan sesuai dengan tujuan dan akhirnya harus bubar ditengah jalan atau tidak berkembang sehingga membuat kerugian bagi suatu organisasi. Oleh karena itu, pengawasan dan fungsi-fungsi manajemen lainnya harus kita terapkan dengan baik pada program PAUD dan pelatihan agar program PAUD dan pelatihan dapat sukses.



B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Apa pengertian dan tujuan pengawasan ?
2.      Apa fungsi dan prinsip-prinsip pengawasan ?
3.      Apa saja macam-macam pengawasan ?
4.      Bagaimana pengawasan di dalam PAUD ?
5.      Bagaimana pengawasan di dalam DIKLAT/Pelatihan ?
6.      Bagaimana mengadakan pengawasan atau mengkontrol ?

C.    TUJUAN

1.      Untuk mengetahui pengertian dan tujuan dari pengawasan.
2.      Untuk mengetahui fungsi dan prinsip-prinsip pengawasan.
3.      Untuk mengetahui macam-macam dari pengawasan.
4.      Untuk mengetahui tentang pengawasan dalam PAUD.
5.      Untuk mengetahui tentang pengawasan dalam Diklat/Pelatihan.
6.      Untuk mengetahui cara mengadakan pengawasan atau mengkontrol.

D.    MANFAAT

Manfaat dari makalah ini yaitu dapat memberikan wawasan pengetahuan kepada pembaca baik itu dosen maupun mahasiswa tentang pengawasan dalam PAUD dan Diklat/pelatihan. Makalah ini memiliki bacaan tentang pengawasan yang detail sehingga dapat digunakan sebagai referensi dan tambahan wawasan bagi pembaca yang bisa bermanfaat untuk melakukan manajemen terhadap pengawasan PAUD dan Diklat/Pelatihan.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN DAN TUJUAN PENGAWASAN

Pengawasan atau Controling merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi terdahulu yang ada di dalam manajemen tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Ada banyak definisi pengawasan menurut para ahli, antara lain:
a)      Robert J. Mocker yang disampaikan oleh Hani Handoko (1995) “Pengawasan Manajemen adalah suatu usaha sistematis untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan-tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan” (Muhamad & Sofan, 2012 : 28).
b)      Menurut Franklin G. Moore (1964), dalam bukunya yang berjudul “Management”, memberi arti bahwa pengawasan adalah tindakan-tindakan yang saling berkaitan untuk mengikuti dan memperbaiki kegiatan. Ia mengemukakan bahwa pengawasan tidak hanya terkait dengan pelaporan, penyajian informasi, dan penilikan terhadap jalannya suatu program, melainkan mencakup pula tindakan untuk mengendalikan kegiatan ke arah tujuan yang akan dicapai (Sudjana, 2004:213).
c)      Menurut Fremont B. Rost dan James E. Rosenweig, dalam bukunya “Organization and Management”: A System Approach”, menjelaskan bahwa pengawasan adalah suatu tahapan pengelolaan dan berfungsi untuk menata dan memelihara kegiatan organisasi yang menggunakan sumber-sumber terbatas dalam mencapai hasil-hasil yang diharapkan. Hasil-hasil tersebut dinyatakan baik secara umum maupun secara khusus dan tergambar dalam tujuan, rencana, rosedur kerja, petunjuk, dan peraturan yang dilaksanakan (Connor, 1974:442 dalam Sudjana, 2004:213).
d)     Menurut Justin G. Longenecher mengemukakan pengertian pengawasan dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management and Organization Behavior”. Ia memberi batasan bahwa pengawasan adalah sebagai aktivitas yang berkaitan dengan penilikan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung, peraturan-peraturan yang sedang dan harus dilaksanakan setiap orang yang terlibat dalam organisasi, kelemahan-kelemahan pelaksanaan, dan cara-cara yang digunakan untuk mengatasi kelemahan tersebut (Longenecher, 1973: 513).
e)      Menurut George Terry (1978), dalam “Principles of Management, mengemukakan bahwa pengawasan adalah kegiatan lanjutan yang bersangkutan dengan ikhtiar untuk mengidentifikasi pelaksanaan program yang harus sesuai dengan rencana (Sudjana, 2004: 214).
f)       Menurut P. Siagan (1987), dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Administrasi”, memberi batasan bahwa pengawasan adalah proses pengamatan terhadap pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk mengetahui dan menjamin bahwa semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya (Siagan, 1982: 135 dalam Sudjana, 2004: 214).
g)      Pengawasan adalah upaya melihat apakah pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana, peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kebijaksanaan pemimpin dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien (Depdikbud, Biro Perencanaan, 1998).
h)      Pengawasan adalah suatu proses kegiatan seorang pemimpin untuk menjamin agar pelaksanaan kegiatan organisasi sesuai dengan rencana, kebijaksanaan, dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan (LAN, 1998).
i)        Pengawasan adalah proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang ditetapkan (Prof. DR. Sondang Siagian, MPA, 1997).
j)        Pengawasan adalah proses seorang manajer yang yakin bahwa kegiatannya sesuai dengan kegiatan yang direncanakan. (James AF. Stonner, 1989).
k)      Pengawasan adalah fungsi manajemen yang meyakinkan kegiatan dari hari ke hari konsisten dengan rencana dan tujuan. (Carl R. Anderson, 1982).
l)        Pengawasan adalah kegiatan manajemen termasuk engumpulan informasi dalam pencapaian tujuan, membandingkan dengan pencapaian perencanaan, dan mengambil tindakan perbaikan bila diperlukan (Christina, Christenson, Thomas W.Johnson John E.Stinson, 1982).
m)    Pengawasan adalah proses memonitor perencanaan, mengidentifikasi penyimpangan yang signifikan (dari perencanaan), dan melakukan koreksi atas penyimpangan itu (Martin J.Gannon, 1998).
n)      Pengawasan adalah pemeriksaan, mencocokkan dan mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan serta hasil yang dikehendaki (The Liang Gie, 1968).
o)      Menurut Sudjana (2004: 215) dalam bukunya “Manajemen Program Pendidikan” disimpulkan bahwa pengawasan dilakukan baik terhadap kegiatan yang sedang dilaksanakan oleh organisasi maupun terhadap komponen-komponen organisasi. Komponen-komponen itu meliputi sumber-sumber yang tersedia, sasaran (target group), proses, hasil, dan pengaruh program yang sedang dilaksanakan. Disamping itu pengawasan dilakukan untuk mengidentifikasi ketetapan kegiatan terhadap hasil yang dicapai dan terhadap rencana yang telah ditetapkan, mengetahui penyimpangan dari rencana, dan mengupayakan perbaikan dan pengembangan kegiatan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pengawasan memiliki 5 tahapan yang dikemukakan oleh T. Hani Handoko (dalam Muhamad & Sofan, 2012: 29), yaitu:
·         Penetapan standar pelaksanaan.
·         Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan.
·         Pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata.
·         Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standard an penganalisaan penyimpangan-penyimpangan.
·         Pengambilan tindakan koreksi, bila diperlukan.
Tujuan pengawasan, yaitu:
1.      Menstandardisasikan pelaksanaan kerja yang akseptabel. Dilaksanakan melalui standar, aturan, inspeksi, prosedur tertulis, dan jadwal kegiatan.
2.      Melindungi asset organisasi dari pencurian, penghamburan atau salah urus. Dilaksanakan melalui pendokumentasian, prosedur audit, penugasan yang bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
3.      Mempertahankan kualitas produk dan pelayanan kepada pelanggan. Dilaksanakan melalui diklat pengawasan, inspeksi, statistic kontrol kualitas, dan pelaksanaan sistem insentif.
4.      Membatasi jumlah kewenangan pimpinan dan pegawai, sebagian dilaksanakan melalui uraian jabatan, arahan kebijaksanaan, peraturan dan anggaran.
5.      Mengukur dan mengarahkan kinerja pegawai, dan unit kerjanya, sebagian dilakukan melalui penilaian prestasi kerja, pengamatan, supervise langsung dan melaporkan hasil kerjanya baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.

B.     FUNGSI DAN PRINSIP-PRINSIP PENGAWASAN
Fungsi kontrol ( Pengawasan Pendidikan ) sangat penting, karena erat kaitannya dengan pelaksanaan dan hasil yang diharapkan oleh sistem pendidikan:
1.      Fungsi kontrol pendidikan tetap mengacu dalam tiga hal, yakni berfungsi sebagai sensor, komparator, dan activator. Pada fungsi sensor, kontrol pendidikan itu mendayagunakan rencana pendidikan sebagai ukuran yang dimaksudkan untuk mengukur pelaksanaan dan keberhasilan suatu rencana pendidikan.
Pada fungsi komparator bermaksud membandingkan antara hasil pengukuran dan perencanaan pendidikan yang telah dikembangkan sebelumnya. Fungsi activator dimaksudkan untuk mengarahkan tindakan manajerial bilamana terjadi suatu perubahan dalam pelaksanaan sistem pendidikan. Dengan demikian fungsi-fungsi tersebut erat kaitannya dengan kelancaran jalannya roda organisasi pendidikan, dan ketercapaian hasil pelaksanaan sistem pendidikan seesuai dengan jenjangnya.

2.      Sistem kontrol pendidikan juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a)      Apakah kontrol itu dilakukan secara terbuka atau secara tertutup ?
Konrol yang dilakukan secara terbuka berarti dapat melibatkan semua orang di lingkungan organisasi dan konsekuensinya semua informasi perlu ditampung dan diperhatikan. Kontrol secara tertutup keterlibatan hanya dibatasi pada pihak-pihak terkait saja dan umumnya tidak menyelusuri semua dimensi organisasi pendidikan. Kedua cara ini sesungguhnya dapat dilakukan secara bebarengan.

b)      Apakah kontrol pendidikan dilakukan oleh manusia atau oleh mesin ( alat elektronik misalnya ). Sistem manajemen pendidikan yang telah berkembang dewasa ini memungkinkan penggunaan kedua sistem tersebut, yakni dilakukan oleh manusia dan menggunakan alat yang canggih.

c)      Apakah kontrol dilaksanakan terhadap efektivitas dan efesiensi organisasi atau terhadap hasil operasionalisasi sistem pendidikan. Kedua bentuk kontrol tersebut seyogianya dilaksanakan dalam sisitem manajemen pendidikan, karena pada dasarnya antara kegiatan organisasi pendidikan dan keberhasilan yang dicapai dalam pelaksanaan harian bersifat saling terkait dan oleh karenanya perlu dilaksanakan secara berkesinambungan.

Dalam melaksanakan kepengawasan, ada sejumlah prinsip yang dapat dilaksanakan pengawas agar kegiatan kepengawasan berjalan efektif. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:
1.      Trust, artinya kegiatan pengawasan dilaksanakan dalam pola hubungan kepercayaan antara pihak sekolah dengan pihak pengawas sekolah sehingga hasil pengawasannya dapat dipercaya.
2.      Realistic, artinya kegiatan pengawasan dan pembinaannya dilaksanakan berdasarkan data eksisting sekolah.
3.      Utility, artinya proses dan hasil pengawasan harus bermuara pada manfaat bagi sekolah untuk mengembangkan mutu dan kinerja sekolah binaannya.
4.      Supporting, Networking dan Collaborating, artinya seluruh aktivitas pengawasan pada hakikatnya merupakan dukungan terhadap upaya sekolah menggalang jejaring kerja sama secara kolaboratif dengan seluruh stakeholder.
5.      Testable, artinya hasil pengawasan harus mampu menggambarkan kondisi kebenaran objektif dan siap diuji ulang atau dikonfirmasi pihak manapun.


C.    MACAM-MACAM PENGAWASAN
Di dalam fungsi manajemen pengawasan terdapat bebrapa macam dari pengawasan. Pengawasan dapat dibedakan menurut :
Ø  SUBYEK YANG MELAKUKAN PENGAWASAN
Berdasarkan subyek yang melakukan pengawasan, ada empat macam pengawasan :
a)      Pengawasan Melekat (Waskat) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahan dan satuan kerja yang dipimpinnya.
b)      Pengawasan Fungsional (Wasnal) ialah pengawasan yang dilakukan oleh aparat yang tugas pokoknya melakukan pengawasan, seperti ITJEN, BAWASDA, dan BAPEKA.
c)      Pengawasan Legislatif (WasLeg) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh Lembaga Perwakilan Rakyat baik di Pusat (DPR) maupun di Daerah (DPRD), pengawasan ini merupakan pengawasan politik (Waspol).
d)     Pengawasan Masyarakat (Wasmas) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat seperti termuat dalam media massa.
Ø  MENURUT CARA PELAKSANAANNYA
Dapat dibedakan antara pengawasan langsung dan tidak langsung
a)      Pengawasan langsung ialah pengawasan yang dilaksanakan dengan mengadakan inspeksi dan pemeriksaan.
b)      Pengawasan tidak langsung yaitu pengawasan yang dilaksanakan dengan mengadakan pemantauan dan pengkajian laporan dari pejabat/satuan kerja yang bersangkutan, aparat pengawasan fungsional/pengawasan legislative dan pengawasan masyarakat.
Ø  MENURUT WAKTU PELAKSANAAN PENGAWASAN
a)      Pengawasan yang dilakukan sebelum kegiatan dimulai.
Pengawasan ini antara lain dilakukan dengan mengadakan pemeriksaan, dan persetujuan rencana kerja dan rencana anggaranny, persetujuan atau rancangan peraturan perundangan yang akan ditetapkan oleh pejabat/instansi yang lebih rendah. Pengawasan ini bersifat preventif dengan tujuan untuk mencegah terjadinya hambatan dan kegagalan. Dalam bidang keuangan dikenal sistem pre-audit yaitu dengan pemeriksaan dan persetujuan terhadap pembayaran yang akan dilakukan.
b)      Pengawasan yang dilakukan selama pekerjaan sedang berlangsung.
Perlu dikembangkan sistem monitoring yang mampu mendeteksi atau mengetahui secara dini kemungkinan-kemungkinan timbulnya penyimpangan, kesalahan dan kegagalan.
c)      Pengawasan yang dilakukan sesudah pekerjaan selesai dilaksanakan.
Di bidang keuangan dikenal sebagai pre-audit, yaitu dengan pemeriksaan antara lain terhadap bukti-bukti pembayaran. Pengawasan ini merupakan pengawasan represif.

D.    PENGAWASAN DALAM PAUD

Ø  PENGERTIAN PAUD
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Ø  TUJUAN PAUD
Pendidikan anak usia dini bertujuan:
a.       membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkepribadian luhur, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
b.      mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, kinestetis, dan social peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan.
c.       Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan pada masa dewasa.
d.      Tujuan peserta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.
Ø  FUNGSI PAUD
Berdasarkan PP 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidiukan, fungsi dan tujuan PAUD diatur dalam Pasal 61. Berikut bunyi lengkapnya:
Pendidikan anak usia dini berfungsi membina, menumbuhkan, dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya.

Ø  PRINSIP – PRINSIP PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI
Pemahaman tentang karakteristik perkembangan anak memberikan kontribusi terhadap pendidik untuk merancang kegiatan, menata lingkungan belajar, mengimplementasikan pembelajaran, serta mengevaluasi perkembangan dan belajaranak. Prinsip – prinsip perkembangan anak meliputi :
1)      Anak berkembang secara holistik.
2)      Perkembangan terjadi dalam urutan yang teratur.
3)      Perkembangan anak berlangsung pada tingkat yang beragam di dalam dan diantaraanak.
4)      Perkembangan baru didasarkan pada perkembangan sebelumnya.
5)      Perkembangan mempunyai pengaruh yang bersifat kumulatif.
Prinsip-prinsip perkembangan anak tersebut memberikan implikasi bagi pendidik dalam menentukan tujuan, memilih bahan ajar, menentukan metode, memilih dan menggunakan media, serta mengevaluasi perkembangan dan mendukung belajar anak secara optimal.
Pembelajaran dirancang agar anak dapat berinteraksi dengan anak lainnya secara individual dan dalam kelompok kecil. Motivasi dan bimbingan diberikan agar anak mengenal lingkungannya, mengembangkan ketrampilan social, pengendalian dan disiplin diri.

Ø  PEMBELAJARAN YANG BERORIENTASI PADA PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI
Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan mengacu pada tiga hal penting, yaitu:
1)      Berorientasi pada usia yang tepat.
2)      Beorientasi pada individu yang tepat.
3)      Berorientasi pada konteks sosial budaya.
Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan harus sesuai dengan tingkat usia anak, artinya pembelajaran harus diminati, kemampuan yang diharapkan dapat dicapai, serta kegiatan belajar tersebut menantang untuk dilakukan anak di usia tersebut. Selain berorientasi pada usia dan individu yang tepat, pembelajaran berorientasi perkembangan harus mempertimbangkan konteks sosial budaya anak. Untuk dapat mengembangkan program pembelajaran yang bermakna, guru hendaknya melihat anak dalam konteks keluarga, masyarakat dan factor budaya yang melingkupinya.
Ø  KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN UNTUK ANAK USIA DINI
Anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang dewasa dalam berperilaku. Dengan demikian, dalam hal belajar anak juga memiliki karakteristik yang tidak sama pula dengan orang dewasa. Karakteristik cara belajar anak merupakan fenomena yang harus dipahami dan dijadikan acuan dalam merencanaka dan melaksanakan pembelajaran untuk anak usia dini.
Atas dasar pendapatdiatas, dapat dinyatakan bahwa pembelajaran untuk anak usia dini memiliki karakteristik sebagai berikut :
a.       Anak belajar melalui bermain
b.      Anak belajar dengan cara membangun pengetahuannya
c.       Anak belajar secara alamiah
d.      Anak belajar paling baik jika apa yang dipelajarinya mempertimbangkan keseluruhan aspek pengembangan, bermakna, menarik dan fungsional.
Anak-anak belajar melalui interaksi dengan alat-alat permainan dan perlengkapan serta manusia. Anak belajar dengan bermain dalam suasana yang menyenangkan. Hasil belajar anak menjadi lebih baik jika kegiatan belajar dilakukan dengan teman sebayanya. Dalam belajar, anak menggunakan seluruh alat inderanya.

Ø  LANDASAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
1.      Landasan yuridis
a.       Dalam Amandemen UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 dinyatakan, “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan”.
b.      Dalam UU no. 23 th 2002 pasal 9 ayat 1 tentang perlindungan anak. “ setiap anak berhak memperoleh pengajaran dan pendidikan”.
c.       Dalam UU no. 20 th 2003 tentang sistem pendidikan nasional bab 1 pasal 1 butir 14 dinyatakan.” Pendidikan anak usia dini merupakan upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak lahir sampai usia 6 tahun”.
d.      Peraturan menteri pendidikan nasional no 58 th 2005 tentang standart pendidikan anak usia dini.
2.      Landasan filosofis
Filosofi pendidikan merupakan kerangka landasan yang sangat fundamental bagi sistem pendidikan dan para pendidik.  Kerangka filososfis harus menjadi kerangka berpikir guru dalam pembelajaran. Dari sudut filosofis pendidikan, banyak ragam konsep atau cara pandang pelaksanaan yang digagas oleh para filosof.
a.      Idealisme
Idealisme termasuk  dalam kelompok filsafat tertua. Tokoh aliran ini adalah Plato (427 – 347 SM) yang secara umum dipandang sebagai bapak idealisme di barat yang kira – kira hidup 2500 tahun lalu. Idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa alam semesta ini perwujud an intelegensi dan kemauan, hal, zat, atau substansi yang kekal abadi dalam dunia ini bersifat kejiwaan dan ruhaniyah.
b.      Realisme
Realisme berasal dari kata real yang berarti aktual. Realisme termasuk dalam kelompok pemikiran klasik. Realisme berpandangan bahwa ada alam semesta yang bersifat real yang tidak bergantung pada hal yang bersifat kejiwaan dan melalui pengalaman langsung. Tokoh aliran ini antara lain Aristoteles dan Thomas Aquino.
c.       Naturalisme romantik
Tokoh aliran filsafat ini adalah Jean Jacques Rousseau (1712 – 1778). Ajaran filsafat naturalisme romantik jean dalam emile antara lain berisi gagasan sebagai berikut. “segala sesuatu yang berasal dari sang pencipta adalah baik, tapi karena tangan manusia segala sesuatu itu menjadi rusak”. Sesuai dengan pandangan diatas, pendekatan untuk mendidik anak bukanlah dengan mengajar secara formal atau melebihi pengajaran langsung.  Melainkan dengan memberi kesempatan kepada mereka melalui proses eksplorasi.
d.      Pragmatisme
Aliran ini muncul pada abad 20. Pendiri aliran ini adalah Charles  E Peirce. Pemikiran Charles mendapat pengaruh dari Kant. Aliran ini juga biasa disebut aliran eksperimentalisme. Karena dalam penggunaanya membutuhkan eksperimen untuk membuktikan kebenaranya. Pragmatisme adalah salah satu aliran filsafat yang anti  metafisika. Kenyataan sebenarnya adalah kenyataan fisik. Segala sesuatu dalam alam dan kehiduapan iniberubah karena hakikat dari segala sesuatu adalah perubahan. Menurut John Dewey, pendidikan yang benar hanya akan muncul dengan menggali keunggulan anak – anak didik yang timbul dari tuntutan situasi sosial dimana dia menemukan jati dirinya.
e.       Eksistensialisme
Eksistensi menurut Save M Dagun berasal dari kata latin eksistere yang berarti membuat berdiri.  Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang melukiskan kedudukan manusia yang sulit. Denagn demikian pokok pemikiran filsafat eksistensialisme dicurahkan kepada pemecahan yang konkret terhadap persoalan mengenai manusia. Aliran ini berpendapat bahwa segala sesuatunya berpacu pada eksistensi.

3.      Landasan psikologis
Pendidikan anak usia dini merupakan suatu interaksi para pendidik dan peserta didik. Dalam membantu mengaktualisasikan perkembangan anak agar lebih terpacu berbagai sensor psikomotoriknya. Dalam konteks psikologi, perkembangan anak didik mempunyai karakteristik dan tahapan perkembangan normatif yang relatif sama dengan usia kalender.  Beberapa konsep generik psikologi perkembangan anak yaitu :
(1)   Pengembangan tentang konsep anak didik dapat diperoleh melalui studi perkembangan. Studi ini pernah dilakukan oleh Jean Piaget tentang perkembangan kognitif anak.
(2)   Terdapat berbagai teori mengenai perkembangan individu. Salah satunya teori penahapan , menurut teori ini individu berjalan melalui tahap – tahap perkembangan. Setiap tahap pasti mempunyai karakteristik tertentu. Dalam setiap tahap, individu merasakan perubahan yang tidak disadari karena sudah merupakan lahiriah.

4.      Landasan neurosains
Neurosains merupakan salah satu lompatan keilmuan pendukung yang sangat memberikan kontribusi dalam menelaah dan memahami tentang perkembangan psikologis melalui kajian keilmuan tentang sel saraf. Dalam berbagai penelitian yang dilakukan oleh Binet Simon pd tahun 1980 bahwa otak berada dalam organ kepala mempunyai peran yang sangat penting, mulai dari berbagai saraf yang menyalur ke seluruh tubuh hingga menentukan kecerdasan seseorang. Penelitian terbaru mengemukakan bahwa, apabila anak – anak jarang diajak bermain atau jarang disentuh, perkembangan otaknya 30% lebih kecil daripada ukuran normal pada usia itu.

5.      Landasan sosio – antropologi
Perkembangan anak pada berbagai dimensi perkembangan tidak pernah terlepas dari konteks kehidupan sosial dan kultural yang melatar belakangi. Konteks kehidupan kultur dan  sosial anak tersebut akan menimbulkan karateristik anak tersebut dan berpotensi dalam pertumbuhan anak tersebut. Kehidupan sosio kultural yang palin g dekat dengan anak yaitu keluarga. Dalam berbagai konteks keluarga akan menyalurkan berbagai konsep hidup, pengetahuan, dan lain lain. Seiring dengan pengalaman interaksional  anak dengan kehidupannya, desakan untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan hak asasi anak juga menjadi salah satu koridor yang mendesakuntuk dipertimbangkan dalam menata serta mengembangakan kurikulum utuh untuk paud.

6.      Landasan empirik
Pada hakikatnya, anak itu unik, mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan , energik dan egosentris dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Kurikulum untuk anak usia dini haris benar benar sesuai dengan usia dan perkembangan psikomotorik anak. Pembelajaran untuk anak usia dini pada hakikatnya adalah pembelajaran yang berorientasi bermain sambil belajar dan sebaliknya. Pendekatan yang paling tepat adalah pembelajaran yang berpusat pada anak.

Ø  PENGAWASAN PAUD
Dalam pembelajaran PAUD dibutuhkan fungsi-fungsi manajemen agar tujuan dari adanya pembelajaran PAUD dapat tercapai sesuai yang diharapkan. PAUD adalah suatu lembaga dimana dapat membimbing, mengarahkan anak usia dini agar dapat menjadi anak yang cerdas agar bisa menjadi generasi emas. Pengawasan di dalam PAUD dapat digunakan untuk mengawasi/menilik atau mengamati program kegiatan pembelajaran di PAUD seperti sasaran, proses, hasil, dan pengaruh dari pembelajaran PAUD terhadap siswa atau anak-anak usia dini. Pengawasan pendidikan anak usia dini antara lain:
a.       Kurikulum PAUD
b.      Metode dan teknik pembelajaran
c.       Kepala sekolah dan guru PAUD
d.      Pembelajarnya (anak-anak)
e.       Biaya sekolah PAUD
f.       Sarana dan prasarana, dll

E.     PENGAWASAN DALAM DIKLAT/PELATIHAN

Ø  PENGERTIAN PELATIHAN
Istilah pelatihan merupakan  terjemahan dari kata “Trainning” dalam bahasa inggris. Secara harfiah akar kata “trainning” adalah “train” yang berarti :
1.      Memberi pelajaran dan praktik (give teaching and practice)
2.      Menjadikan berkembang dalam arah yang dikendaki (cause to grow in  a required direction)
3.      Persiapan (preparation)
4.      Praktik (practice)
Banyak pengertian pelatihan yang dikemukakan para ahli, antara lain sebagai berikut:
Edwin B.Flippo (1971) mengemukakan bahwa : “tranning is the act of increasing the knowlegde and skill of an employes to perform specipic jobs are in creased” (istilah latihan yang dipergunakan disini adalah untuk menunjukan setiap proses untuk mengembangkan bakat, keterampilan, dan kemampan pegawai guna menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan.
Michael J. Jucius (1972) mengemukakan : “the term tranning is used here to indicate any process bay wich the aptitudes, skill and abilities of employes to perform specipic jobs are in creased” (istilah latihan yang digunakan disini adalah unutuk menunjukan setiap proses untuk mengembangkan bakat, keterampilan, dan kemampuan pegawai guna menyelesaikan pekerjaan – pekerjaan tertentu).
Simamora (1995 : 287) mengartikan pelatihan sebagai serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian – keahlian, pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap seorang individu. Sementara dalam instruksi presiden No.  15 tahun 1974, pengertian pelatihan dirumuskan sebagai berikut : “pelatihan adalah bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang relatif singkat, dan dengan menggunkan metodeyang lebih mengutamakan praktik daripada teori.
Istilah pelatihan biasa dihubungkan dengan pendidikan. Ini terutama karena secara konsepsional pelatihan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan. Meskipun demikian secara khusus pelatihan dapat dibedakan dari pendidikan. untuk memahami istilah pendidikan. Untuk memahami istilah pendidikan, kriteria yang dikemukakan oleh peters (1996, hal 45).
Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2005, dikemukakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajardan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinyauntuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sistem pendidikan dipandang sebagai perangkat negara, yang fungsinya menciptakan masyrakat (pekerja) yang memiliki kualitas dan keterampilan yang dibutuhkan. Sehingga berdasarkan pandangan tersebut, pendidikan merupakan usaha untuk memproduksi klasifikasi sosial dan ekonomi. Perbedaan antara penddikan dari pelatihan adalah pertama, pendidikan merupakan aktivitas pembelajaran yang lebih luas dan dalam dibandingkan pelatihan. Kedua, pelatihan lebih berkaitan dengan pengembangan keterampilan tertentu, sedangkan pendidikan lebih berkaitan dengan tingkatan – tingkatan pemahaman secara umum.

Ø  TUJUAN PELATIHAN
Dale S. Beach (1975) mengemukakan, “ The objective of tranning is to achieve a change in the behavior of those trained” (tujuan pelatihan untuk memperoleh perubahan dalam tingkah laku mereka yang dilatih). Sementara itu dari pengertian pelatihan yang dikemukakan Edwin B. Flippo, secara lebih rinci tampak bahwa tujuan pelatian adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang.
Secara khusus dalam kaitan dengan pekerjaan, Simamora (1995) mengelompokkan tujuan pelatihan ke dalam lima bidang, yaitu:
·         Memutakhirkan keahlian para karyawan sejalan dengan perubahan teknologi. melalui pelatihan, pelatih memastikan bahwa karyawan dapat secara efektif menggunakan teknologi baru.
·         Mengurangi waktu belajar bagi karyawan untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan.
·         Mempersiapkan karyawan untuk promosi
·         Mengorientasikan karyawan terhadap organisasi
Sedangkan menurut Marzuki (1992 : 12) ada tiga tujuan pokok yang harus dicapai dengan pelatihan, :
·         Memenuhi kebutuhan organisasi
·         Memperoleh pengertian dan pemahaman yang lengkap tentang pekerjaan yang standart dan kecepatan yang telah ditetapkan dan dalam keadaan yang normal serta aman.
·         Membantu para pemimpin organisasi dalam melaksanakan tugasnya.

Ø  PRINSIP – PRINSIP PELATIHAN
ü  Prinsip perbedaan individu
Perbedaan individu dalam latar belakang sosial, pendidikan, pengalaman,minat, bakat, dan kepribadian harus diperhatikan dalam menyelenggarakan pelatihan.
ü  Prinsip motivasi
Agar peserta pelatihan belajar dengan giat perlu ada motivasi. Motivasi dapat berupa pekerjaan atau kesempatan berusaha, penghasilan, kenaikan pangkat atau jabatan, dan peningkatan kesejahteraan serta kualitas hidup. Dengan begitu, pelatihan dirasakan bermakna oleh peserta pelatihan.
ü  Prinsip pemilihan dan pelatihan para pelatih
Efektivitas program pelatihan antara lain bergantung pada para pelatih yang mempunyai minat dan kemampuan melatih. Anggapan bahwa seseorang yang dapat  mengerjakan sesuatu dengan baik akan dapat melatihkannya dengan baik pula tidak sepenuhnya benar. Karena itu perlu ada pelatihan bagi para pelatih. Selain itu pemilihan dan pelatihan para pelatih dapat menjadi motivasi tambahan.
ü  Prinsip belajar
Belajar harus dimulai yang mudah menuju yang sulit atau dari yang sudah tau ke yang belum diketahui.
ü  Prinsip pertisipasi aktif
Partisipasi aktif dalam proses pembelajaran pelatihan dapat meningkatkan minat dan motivasi peserta.
ü  Prinsip fokus pada batasan materi
Pelatihan hanya untuk menguasai materi tertentu yaitu melatih keterampilan dan tidak dilakukan terhadap pengertian, pemahaman dan sikap.
ü  Prinsip dignosis dan koreksi


Ø  LANDASAN – LANDASAN PELATIHAN
Terdapat beberapa landasan yang mengukuhkan eksistensi pelatihan(Mustofa Kamil , 2010 hal : 14). Landasan-landasan di maksud adalah :
a.       Landasan Filosofis
Pelatihan merupakan wahana formal yang berperan sebagai instrumen yang menunjang pembangunan dalam mencapai masyarakat yang maju, tangguh, mandiri dan sejahtera berdasarkan nilai-nilai yang berlaku. Dengan demikian pelatihan harus didasarkan pada sistem nilai yang di akui dan terarah pada penyediaan tenaga yang berkualifikasi agar mampu mengemban tugas dan melaksanakan perannya dalam organisasi atau masyarakat.
b.      Landasan Humanistik
Pelatihan didasarkan pada pandangan yang menitikberatkan pada kebebasan, nilai-nilai, kebaikan, harga diri, dan kepribadian yang utuh. Diatas landasan ini maka proses pembelajaran pelatihan dicirikan oleh hal-hal berikut :
·         Adanya pemberian tanggung jawab dan kebebasan bekerja kepada peserta.
·         Pelatih lebih banyak berperan sebagai nara sumber, tidak mendominasi peserta.
·         Belajar dilakukan oleh dan untuk diri sendiri.
·         Ada keseimbangan antara tugas  umum dan tugas khusus.
·         Motivasi belajar tinggi.
·         Evaluasi bersifat komprehensif.
c.       Landasan psikologis
Dalam pandangan psikologi, karakteristik manusia dapat dijabarkan kedalam seperangkat tingkah laku. Empat pandangan psikilogi yang mendasari pelatihan, yaitu psikologi pelatihan, psikologi sibernetik, desain sistem, dan psikologi behavioristik. Psikologi pelatihan menitikberatkan pada analisis tugas dan rancangan pelatihan yang mencakup berbagai komponen yang kompleks. Psikologi sibernetik memusatkan perhatian pada sistem balikan yang dinamis dan pengaturan sendiri kegiatan pelatihan. Desain sistem mengutamakan analisis sistem pelatihan. Psikologi behavioristik menekankan pada demonstrasi dan pelatihan bertahap.
d.      Landasao Sosio-Demografis
Permasalahan penigkatan kesejahteraan ekonomi dan sosial terkait dengan upaya pemyediaan dan peningkatan kualitas tenaga kerja. Untuk itu pelatihan yang terintegrasi diperlukan guna mempersiapkan tenaga-tenaga yang handal yang relevan dengan tuntutan lapangan kerja dan pembangunan.
e.       Landasan Kultural
Pelatihan yang terintegrasi yang berfungsi mengembangkan sumber daya manusia merupakan bagian penting dari upaya membudayakan manusia.


Ø  JENIS-JENIS PELATIHAN
Terdapat bermacam-macam pelatihan. Dale yoder (1958) mengemukakan jenis-jenis pelatihan itu dengan memandangnya dari lima sudut, yaitu :
a.       Siapa yang dilatih (who gets trained) artinya pelattihan itu diberikan kepada siapa. Dari sudut ini maka pelatihan dapat diberikan kepada calon pegawai, pegawai baru, pegawai lama, pengawas, manajer, staf ahli, remaja, pemuda, orang lanjut usia, dan anggota masyarakat pada umumnya.
b.      Bagaimana ia dilatih (how he gets trained) artinya dengan metode apa ia dilatih. Dari sudut ini pelatihan dapat dilaksanakan dengan metode pemagangan, permainan peran, permainan bisnis, pelatihan sensitivitas, instruksi kerja, dan sebagainya.
c.       Dimana ia dilatih (where he gets trained) artinya dimana pelatihan mengambil tempat. Dari sudut ini pelatihan dapat diselenggarakan ditempat kerja, disekolah, dikampus, ditempat khusus, ditempat kursus, atau dilapangan.
d.      Bilamana ia dilatih (when he gets trained) artinya kapan pelatihan  itu diberikan. Dari sudut ini pelatihan dapat dilaksanakan sebelum seseorang mendapat pekerjaan, setelah seseorang mendapat pekerjaan, setelah ditempatkan, menjelang pensiun dan sebagainya.
e.       Apa yang dibelajarkan kepadanya ( what he is taught) artinya materi apa yang diberikan. Dari sudut ini pelatihan dapat berupa pelatihan kerja atau keterampilan, pelatihan kepemimpinan, pelatihan keamanan, pelatihan hubungan manusia, pelatihan kesehatan kerja, pelatihan penanggulangan bencana, pelatihan penumpasan teoritis dan sebagainya.
Sementara itu J.C Denyer (1973) yang melihat dari sudut siapa yang dilatih dalam konteks  suatu organisasi, membedakan pelatihan atas lima macam yaitu :
1.      Pelatihan induksi (induction training) yaitu pelatihan perkenalan yang biasanya diberikan kepada pegawai baru dengan tidak memandang tingkatannya. Pelatihan induksi dapat diberikan kepada calon pegawai lulusan SD, SLTP, SMA, SMK, kesetaraan, dan lulusan perguruan tinggi.
2.      Pelatihan kerja (job training) yaitu pelatihan yang diberikan kepada semua pegawai dengan maksud untuk memberikan petunjuk khusus guna melaksanakan tugas-tugas tertentu.
3.      Pelatihan supervisor (supervisory training) yaitu pelatihan yang diberikan kepada supervisor atau pimpinan tingkat bawah.
4.      Pelatihan manajemen (management training) yaitu pelatihan yang diberikan kepada manajemen atau untuk pemegang jabatan manajemen.
5.      Pengembanagn eksekutif (executive develompent) yaitu pelatihan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan pejabat-pejabat pimpinan.

Ø  PENGAWASAN PELATIHAN
Pengawasan dilakukan setiap saat, pada waktu kegiatan itu berlangsung baik itu mulai dari perencanaan dan sampai tercapainya kegiatan sesuai yang diharapkan agar kegiatan dapat berjalan dengan baik. Hasil pengawasan dapat digunakan untuk pelaksanaan dan pengembangan program atau kegiatan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Di dalam kegiatan diklat seperti pelatihan diperlukan pengawasan yang dilakukan secara baik agar kegiatan pelatihan dapat diawasi dan dikendalikan kearah tujuan yang akan dicapai. Pada pelatihan yang perlu diawasi yaitu antara lain:
a.       Biaya pelatihan
b.      Fasilitator dan tutor
c.       Peserta pelatihan
d.      Materi dalam pelatihan
e.       Metode dan teknik dalam penyampaian pelatihan
f.       Pegawai dan panitian pelatihan
g.      Hasil pelatihan, dll


F.     MENGADAKAN PENGAWASAN ATAU MENGONTROL
Tindakan pengawasan atau kontrol terhadap kegiatan yang dilakukan oleh staf dan anggota / individu-individu organisasi itu perlu dilaksanakan oleh pimpinan organisasi. Tindakan pengawasan atau kontrol ini di laksanakan dalam rangka mengetahui / mengecek apakah sesuatu program kegiatan telah berjalan sesuai dengan ketentuan-ketentuan  yang telah di gariskan. Dengan kalimat lain, bahwa tindakan pengawasan ini dilaksanakan untuk mengetahui apakah ada yang terjadi secara riil sesuai dengan apa yang semestinya terjadi.
Apabila dalam realitas terjadi penyimpangan-penyimpangan ( kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai, baik tidak sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai maupun program-program yang telah ditetapkan, serta ketentuan-ketentuan lain ) maka pimpinan organisasi selaku “controller” atau pengawas, berkewajiban untuk segera mengadakan tindakan pelurusan-penyesuaian. Pengawasan ini dapat kita terapakan di dalam pengawasan PAUD dan diklat/pelatihan agar pembelajaran PAUD dan program diklat/pelatihan dapat terarah sesuai tujuan yang akan dicapai.
Tahapan untuk mengadakan tindakan pengawasan (kontrol) dapat ditempuh :
·         Pertama, mengukur kegiatan pada tingkat kesesuaiannya,
·         Kedua, mengkomparasikan/memperbandingkannya dengan standar/pakem yang telah menjadi ketetapan dan kesepakatan. Bila ternyata ada perbedaan/ketidaksesuaian maka,
·         Ketiga, diadakan upaya pelurusan-penyesuaian dari hal-hal yang menyimpang/tidak sesuai/berbeda dengan standar pokoknya (Ahmad & Abu, 1991:40-41).

 
BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Pengawasan Manajemen adalah suatu usaha sistematis untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan-tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Dengan adanya PAUD akan dapat membimbing anak usia dini agar lebih berkembang menjadi anak yang pandai, cerdas yang akan menjadikan anak-anak usia dini menjadi generasi emas bagi bangsa ini.
Pelatihan adalah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian, pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap seorang individu. Dengan adanya keahliah dapat membuat individu semakin berkembang dan dapat meningkatkan kualitas keterampilannya sesuai dengan bidangnya.
Pengawasan sangat penting dalam proses untuk mengkontrol program PAUD dan pelatihan yang akan dilaksanakan agar program kegiatan dapat terus dipantau atau diamati dan apabila terjadi kesalahan yang menyimpang dari tujuan awal bisa diperbaiaki dari awal sehingga adanya pengawasan harus dilakukan setiap saat pada suatu program kegiatan. PAUD dan pelatihan memiliki kegunaan bagi individu agar dapat meningkatkan perkembangan otak, pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan sehingga PAUD dan pelatihan harus bisa selalu ditingkatkan dalam pendidikan nonformal.
B.     SARAN

Semoga dengan adanya penjelasan tentang pengawasan, PAUD, dan peltihan dapat membantu kita sebagai warga PLS agar nantinya bisa membuat program PAUD dan pelaksanaan Pelatihan bagi masyarakat dan anak-anak agar terlaksana dengan baik dan bisa menggunakan fungsi manajemen di dalam pelaksanaan program tersebut sehingga akan mudah tercapai tujuan kita mengadakan program PAUD dan pelatihan. Kita sebagai warga PLS harus mampu memberikan program-program yang baik, bermanfaat bagi masyarakat mulai dari anak-anak sampai orang tua. Dengan belajar fungsi-fungsi manajemen terutama pengawasan semoga kita akan tahu cara-cara pengawasan bagi program kita seperti PAUD dan pelatihan sehingga kita bisa mengurangi dan mencegah kendala-kendala yang akan muncul yang dapat mengganggu program kita.













DAFTAR PUSTAKA

Notoadmodjo, Soekidjo. 2009. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
Sudjana. 2004. Manajemen Program Pendidikan untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung: Falah Production.
Rohani, Ahmad dan Ahmadi, Abu. 1991. Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Rohman, Muhammad dan Amri, Sofan. 2012. Manajemen Pendidikan Analisis dan Solusi terhadap Kinerja Manajemen Kelas dan Strategi Pengajaran yang Efektif. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2010. Buku Pintar Playgroup. Jogjakarta: Buku Biru.
Kamil, Mustofa. 2010. Model Pendidikan dan Pelatihan (Konsep dan Aplikasi). Bandung: Alfabeta.
Rohman, Muhammad dan Amri, Sofan. Manajemen Pendidikan. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Ardy, Novan Wiyani dan Barnawi.2012. Format PAUD( Konsep,Karakteristik dan Implementasi PAUD ). Jakarta: Ar ruzz media.
http://tunas63.wordpress.com/2010/06/15/fungsi-tujuan-dan-jenis-paud/ diakses pada tanggal 28 november 2013 pada pukul 20:31
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/04/hakikat-pengawasan-sekolah/ diakses pada tanggal 28 november 2013 pukul 20:36

Tidak ada komentar:

Posting Komentar