PENGAWASAN PROGRAM
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Pada
saat ini banyak sekali kegiatan organisasi yang gagal ditengah jalan seperti
program PAUD dan diklat/pelatihan yang tidak dapat terlaksanan dengan baik
(tidak sesuai dengan tujuan yang diinginkan). Kegagalan yang terjadi bisa dari
bebrapa factor baik itu perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian, dan fungsi
manajemen lainnya yang tidak diterapkan dengan baik. setiap kegiatan
membutuhkan pengawasan sebagai kontroling kegiatan tersebuat agar bisa mengetahui
sejauh mana kegiatan itu berjalan, jika tanpa ada pengawasan maka suatu
kegiatan akan tidak sesuai dengan tujuan (bisa keluar dari perencanaan awal). Pengawasan
merupakan salah satu fungsi manajemen yang berupa kegiatan memantau untuk
mengamati pelaksanaan seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi atau
komponen-komponen organisasi yang meliputi sasaran, proses, hasil, dan pengaruh
dari program tersebut agar dapat mencapai tujuan yang akan dicapai.
Di
dalam proses pembelajaran PAUD atau program PAUD dibutuhkan fungsi-fungsi
manajemen dan pengawasan merupakan fungsi lanjutan yang harus selalu
dilaksanakan setiap kegiatan PAUD berlangsung. Pengawasan di PAUD harus selalu
ada agar pembelajaran di PAUD dapat berkembang sesuai tujuan. Begitu juga degan
pelatihan/diklat, pengawasan harus dilakukan pada setiap pelaksanaan pelatihan
agar pelatihan dapat bermanfaat bagi peserta dan semua anggota yang terkait. Tetapi
pada kenyataannya masih banyak program PAUD dan Diklat/PAUD yang tidak berjalan
sesuai dengan tujuan dan akhirnya harus bubar ditengah jalan atau tidak
berkembang sehingga membuat kerugian bagi suatu organisasi. Oleh karena itu,
pengawasan dan fungsi-fungsi manajemen lainnya harus kita terapkan dengan baik
pada program PAUD dan pelatihan agar program PAUD dan pelatihan dapat sukses.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
pengertian dan tujuan pengawasan ?
2. Apa
fungsi dan prinsip-prinsip pengawasan ?
3. Apa
saja macam-macam pengawasan ?
4. Bagaimana
pengawasan di dalam PAUD ?
5. Bagaimana
pengawasan di dalam DIKLAT/Pelatihan ?
6. Bagaimana
mengadakan pengawasan atau mengkontrol ?
C.
TUJUAN
1. Untuk
mengetahui pengertian dan tujuan dari pengawasan.
2. Untuk
mengetahui fungsi dan prinsip-prinsip pengawasan.
3. Untuk
mengetahui macam-macam dari pengawasan.
4. Untuk
mengetahui tentang pengawasan dalam PAUD.
5. Untuk
mengetahui tentang pengawasan dalam Diklat/Pelatihan.
6. Untuk
mengetahui cara mengadakan pengawasan atau mengkontrol.
D.
MANFAAT
Manfaat dari makalah
ini yaitu dapat memberikan wawasan pengetahuan kepada pembaca baik itu dosen
maupun mahasiswa tentang pengawasan dalam PAUD dan Diklat/pelatihan. Makalah
ini memiliki bacaan tentang pengawasan yang detail sehingga dapat digunakan
sebagai referensi dan tambahan wawasan bagi pembaca yang bisa bermanfaat untuk
melakukan manajemen terhadap pengawasan PAUD dan Diklat/Pelatihan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
DAN TUJUAN PENGAWASAN
Pengawasan
atau Controling merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam
suatu organisasi. Semua fungsi terdahulu yang ada di dalam manajemen tidak akan
efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Ada banyak definisi pengawasan
menurut para ahli, antara lain:
a) Robert
J. Mocker yang disampaikan oleh Hani Handoko (1995) “Pengawasan Manajemen
adalah suatu usaha sistematis untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan
tujuan-tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik,
membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya,
menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan
koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan
dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian
tujuan-tujuan perusahaan” (Muhamad & Sofan, 2012 : 28).
b) Menurut
Franklin G. Moore (1964), dalam bukunya yang berjudul “Management”, memberi
arti bahwa pengawasan adalah tindakan-tindakan yang saling berkaitan untuk
mengikuti dan memperbaiki kegiatan. Ia mengemukakan bahwa pengawasan tidak
hanya terkait dengan pelaporan, penyajian informasi, dan penilikan terhadap jalannya
suatu program, melainkan mencakup pula tindakan untuk mengendalikan kegiatan ke
arah tujuan yang akan dicapai (Sudjana, 2004:213).
c) Menurut
Fremont B. Rost dan James E. Rosenweig, dalam bukunya “Organization and
Management”: A System Approach”, menjelaskan bahwa pengawasan adalah suatu
tahapan pengelolaan dan berfungsi untuk menata dan memelihara kegiatan
organisasi yang menggunakan sumber-sumber terbatas dalam mencapai hasil-hasil
yang diharapkan. Hasil-hasil tersebut dinyatakan baik secara umum maupun secara
khusus dan tergambar dalam tujuan, rencana, rosedur kerja, petunjuk, dan
peraturan yang dilaksanakan (Connor, 1974:442 dalam Sudjana, 2004:213).
d) Menurut
Justin G. Longenecher mengemukakan pengertian pengawasan dalam bukunya yang
berjudul “Principles of Management and Organization Behavior”. Ia memberi
batasan bahwa pengawasan adalah sebagai aktivitas yang berkaitan dengan
penilikan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung, peraturan-peraturan yang
sedang dan harus dilaksanakan setiap orang yang terlibat dalam organisasi,
kelemahan-kelemahan pelaksanaan, dan cara-cara yang digunakan untuk mengatasi
kelemahan tersebut (Longenecher, 1973: 513).
e) Menurut
George Terry (1978), dalam “Principles of Management, mengemukakan bahwa
pengawasan adalah kegiatan lanjutan yang bersangkutan dengan ikhtiar untuk
mengidentifikasi pelaksanaan program yang harus sesuai dengan rencana (Sudjana,
2004: 214).
f) Menurut
P. Siagan (1987), dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Administrasi”, memberi
batasan bahwa pengawasan adalah proses pengamatan terhadap pelaksanaan seluruh
kegiatan organisasi untuk mengetahui dan menjamin bahwa semua pekerjaan yang
sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan
sebelumnya (Siagan, 1982: 135 dalam Sudjana, 2004: 214).
g) Pengawasan
adalah upaya melihat apakah pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana,
peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kebijaksanaan pemimpin dalam
rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien (Depdikbud, Biro Perencanaan,
1998).
h) Pengawasan
adalah suatu proses kegiatan seorang pemimpin untuk menjamin agar pelaksanaan
kegiatan organisasi sesuai dengan rencana, kebijaksanaan, dan ketentuan-ketentuan
yang telah ditetapkan (LAN, 1998).
i)
Pengawasan adalah proses pengamatan dari
pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan
yang sedang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang ditetapkan (Prof.
DR. Sondang Siagian, MPA, 1997).
j)
Pengawasan adalah proses seorang manajer
yang yakin bahwa kegiatannya sesuai dengan kegiatan yang direncanakan. (James
AF. Stonner, 1989).
k) Pengawasan
adalah fungsi manajemen yang meyakinkan kegiatan dari hari ke hari konsisten dengan
rencana dan tujuan. (Carl R. Anderson, 1982).
l)
Pengawasan adalah kegiatan manajemen
termasuk engumpulan informasi dalam pencapaian tujuan, membandingkan dengan
pencapaian perencanaan, dan mengambil tindakan perbaikan bila diperlukan (Christina,
Christenson, Thomas W.Johnson John E.Stinson, 1982).
m) Pengawasan
adalah proses memonitor perencanaan, mengidentifikasi penyimpangan yang
signifikan (dari perencanaan), dan melakukan koreksi atas penyimpangan itu
(Martin J.Gannon, 1998).
n) Pengawasan
adalah pemeriksaan, mencocokkan dan mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan
terlaksana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan serta hasil yang dikehendaki
(The Liang Gie, 1968).
o) Menurut
Sudjana (2004: 215) dalam bukunya “Manajemen Program Pendidikan” disimpulkan
bahwa pengawasan dilakukan baik terhadap kegiatan yang sedang dilaksanakan oleh
organisasi maupun terhadap komponen-komponen organisasi. Komponen-komponen itu
meliputi sumber-sumber yang tersedia, sasaran (target group), proses, hasil,
dan pengaruh program yang sedang dilaksanakan. Disamping itu pengawasan
dilakukan untuk mengidentifikasi ketetapan kegiatan terhadap hasil yang dicapai
dan terhadap rencana yang telah ditetapkan, mengetahui penyimpangan dari
rencana, dan mengupayakan perbaikan dan pengembangan kegiatan dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Pengawasan
memiliki 5 tahapan yang dikemukakan oleh T. Hani Handoko (dalam Muhamad &
Sofan, 2012: 29), yaitu:
·
Penetapan standar pelaksanaan.
·
Penentuan pengukuran pelaksanaan
kegiatan.
·
Pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata.
·
Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan
standard an penganalisaan penyimpangan-penyimpangan.
·
Pengambilan tindakan koreksi, bila
diperlukan.
Tujuan
pengawasan, yaitu:
1. Menstandardisasikan
pelaksanaan kerja yang akseptabel. Dilaksanakan melalui standar, aturan,
inspeksi, prosedur tertulis, dan jadwal kegiatan.
2. Melindungi
asset organisasi dari pencurian, penghamburan atau salah urus. Dilaksanakan
melalui pendokumentasian, prosedur audit, penugasan yang bertanggung jawab
terhadap pekerjaannya.
3. Mempertahankan
kualitas produk dan pelayanan kepada pelanggan. Dilaksanakan melalui diklat
pengawasan, inspeksi, statistic kontrol kualitas, dan pelaksanaan sistem
insentif.
4. Membatasi
jumlah kewenangan pimpinan dan pegawai, sebagian dilaksanakan melalui uraian
jabatan, arahan kebijaksanaan, peraturan dan anggaran.
5. Mengukur
dan mengarahkan kinerja pegawai, dan unit kerjanya, sebagian dilakukan melalui
penilaian prestasi kerja, pengamatan, supervise langsung dan melaporkan hasil
kerjanya baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
B.
FUNGSI
DAN PRINSIP-PRINSIP PENGAWASAN
Fungsi
kontrol ( Pengawasan Pendidikan ) sangat penting, karena erat kaitannya dengan
pelaksanaan dan hasil yang diharapkan oleh sistem pendidikan:
1. Fungsi
kontrol pendidikan tetap mengacu dalam tiga hal, yakni berfungsi sebagai
sensor, komparator, dan activator. Pada fungsi sensor, kontrol pendidikan itu
mendayagunakan rencana pendidikan sebagai ukuran yang dimaksudkan untuk
mengukur pelaksanaan dan keberhasilan suatu rencana pendidikan.
Pada fungsi komparator
bermaksud membandingkan antara hasil pengukuran dan perencanaan pendidikan yang
telah dikembangkan sebelumnya. Fungsi activator dimaksudkan untuk mengarahkan
tindakan manajerial bilamana terjadi suatu perubahan dalam pelaksanaan sistem
pendidikan. Dengan demikian fungsi-fungsi tersebut erat kaitannya dengan
kelancaran jalannya roda organisasi pendidikan, dan ketercapaian hasil
pelaksanaan sistem pendidikan seesuai dengan jenjangnya.
2. Sistem
kontrol pendidikan juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a) Apakah
kontrol itu dilakukan secara terbuka atau secara tertutup ?
Konrol yang dilakukan
secara terbuka berarti dapat melibatkan semua orang di lingkungan organisasi
dan konsekuensinya semua informasi perlu ditampung dan diperhatikan. Kontrol
secara tertutup keterlibatan hanya dibatasi pada pihak-pihak terkait saja dan
umumnya tidak menyelusuri semua dimensi organisasi pendidikan. Kedua cara ini
sesungguhnya dapat dilakukan secara bebarengan.
b) Apakah
kontrol pendidikan dilakukan oleh manusia atau oleh mesin ( alat elektronik
misalnya ). Sistem manajemen pendidikan yang telah berkembang dewasa ini
memungkinkan penggunaan kedua sistem tersebut, yakni dilakukan oleh manusia dan
menggunakan alat yang canggih.
c) Apakah
kontrol dilaksanakan terhadap efektivitas dan efesiensi organisasi atau
terhadap hasil operasionalisasi sistem pendidikan. Kedua bentuk kontrol
tersebut seyogianya dilaksanakan dalam sisitem manajemen pendidikan, karena
pada dasarnya antara kegiatan organisasi pendidikan dan keberhasilan yang
dicapai dalam pelaksanaan harian bersifat saling terkait dan oleh karenanya
perlu dilaksanakan secara berkesinambungan.
Dalam
melaksanakan kepengawasan, ada sejumlah prinsip yang dapat dilaksanakan
pengawas agar kegiatan kepengawasan berjalan efektif. Prinsip-prinsip tersebut
antara lain:
1. Trust,
artinya kegiatan pengawasan dilaksanakan dalam pola hubungan kepercayaan antara
pihak sekolah dengan pihak pengawas sekolah sehingga hasil pengawasannya dapat
dipercaya.
2. Realistic,
artinya kegiatan pengawasan dan pembinaannya dilaksanakan berdasarkan data
eksisting sekolah.
3. Utility,
artinya proses dan hasil pengawasan harus bermuara pada manfaat bagi sekolah
untuk mengembangkan mutu dan kinerja sekolah binaannya.
4. Supporting,
Networking dan Collaborating, artinya seluruh aktivitas pengawasan pada
hakikatnya merupakan dukungan terhadap upaya sekolah menggalang jejaring kerja
sama secara kolaboratif dengan seluruh stakeholder.
5. Testable,
artinya hasil pengawasan harus mampu menggambarkan kondisi kebenaran objektif
dan siap diuji ulang atau dikonfirmasi pihak manapun.
C.
MACAM-MACAM
PENGAWASAN
Di dalam fungsi manajemen pengawasan
terdapat bebrapa macam dari pengawasan. Pengawasan dapat dibedakan menurut :
Ø SUBYEK
YANG MELAKUKAN PENGAWASAN
Berdasarkan
subyek yang melakukan pengawasan, ada empat macam pengawasan :
a) Pengawasan
Melekat (Waskat) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahan
dan satuan kerja yang dipimpinnya.
b) Pengawasan
Fungsional (Wasnal) ialah pengawasan yang dilakukan oleh aparat yang tugas
pokoknya melakukan pengawasan, seperti ITJEN, BAWASDA, dan BAPEKA.
c) Pengawasan
Legislatif (WasLeg) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh Lembaga Perwakilan
Rakyat baik di Pusat (DPR) maupun di Daerah (DPRD), pengawasan ini merupakan
pengawasan politik (Waspol).
d) Pengawasan
Masyarakat (Wasmas) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat seperti
termuat dalam media massa.
Ø
MENURUT CARA PELAKSANAANNYA
Dapat
dibedakan antara pengawasan langsung dan tidak langsung
a)
Pengawasan langsung ialah
pengawasan yang dilaksanakan dengan mengadakan inspeksi dan pemeriksaan.
b)
Pengawasan tidak langsung yaitu
pengawasan yang dilaksanakan dengan mengadakan pemantauan dan pengkajian
laporan dari pejabat/satuan kerja yang bersangkutan, aparat pengawasan
fungsional/pengawasan legislative dan pengawasan masyarakat.
Ø
MENURUT WAKTU PELAKSANAAN
PENGAWASAN
a)
Pengawasan yang dilakukan sebelum
kegiatan dimulai.
Pengawasan ini antara lain dilakukan dengan mengadakan
pemeriksaan, dan persetujuan rencana kerja dan rencana anggaranny, persetujuan
atau rancangan peraturan perundangan yang akan ditetapkan oleh pejabat/instansi
yang lebih rendah. Pengawasan ini bersifat preventif dengan tujuan untuk mencegah
terjadinya hambatan dan kegagalan. Dalam bidang keuangan dikenal sistem
pre-audit yaitu dengan pemeriksaan dan persetujuan terhadap pembayaran yang
akan dilakukan.
b)
Pengawasan yang dilakukan selama
pekerjaan sedang berlangsung.
Perlu dikembangkan sistem monitoring yang mampu mendeteksi
atau mengetahui secara dini kemungkinan-kemungkinan timbulnya penyimpangan,
kesalahan dan kegagalan.
c)
Pengawasan yang dilakukan sesudah
pekerjaan selesai dilaksanakan.
Di bidang keuangan dikenal sebagai pre-audit, yaitu dengan
pemeriksaan antara lain terhadap bukti-bukti pembayaran. Pengawasan ini merupakan
pengawasan represif.
D.
PENGAWASAN
DALAM PAUD
Pendidikan anak usia dini
(PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan
dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan
yang ditujukan bagi anak
sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani
dan rohani
agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang
diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu
bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar ke
arah pertumbuhan dan perkembangan
fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan
(daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional
(sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan
dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Ø TUJUAN
PAUD
Pendidikan
anak usia dini bertujuan:
a.
membangun landasan bagi
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkepribadian luhur, sehat,
berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, dan menjadi
warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
b.
mengembangkan potensi kecerdasan
spiritual, intelektual, emosional, kinestetis, dan social peserta didik pada
masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan
menyenangkan.
c.
Tujuan utama: untuk membentuk anak
Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan
tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam
memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan pada masa dewasa.
d.
Tujuan peserta: untuk membantu
menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.
Ø FUNGSI
PAUD
Berdasarkan PP 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidiukan, fungsi dan tujuan PAUD diatur dalam Pasal 61.
Berikut bunyi lengkapnya:
Pendidikan
anak usia dini berfungsi membina, menumbuhkan, dan mengembangkan seluruh
potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan
dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki
pendidikan selanjutnya.
Ø PRINSIP
– PRINSIP PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI
Pemahaman tentang karakteristik perkembangan anak
memberikan kontribusi terhadap pendidik untuk merancang kegiatan, menata
lingkungan belajar, mengimplementasikan pembelajaran, serta mengevaluasi
perkembangan dan belajaranak. Prinsip – prinsip perkembangan anak meliputi :
1) Anak
berkembang secara holistik.
2) Perkembangan
terjadi dalam urutan yang teratur.
3) Perkembangan
anak berlangsung pada tingkat yang beragam di dalam dan diantaraanak.
4) Perkembangan
baru didasarkan pada perkembangan sebelumnya.
5) Perkembangan
mempunyai pengaruh yang bersifat kumulatif.
Prinsip-prinsip perkembangan anak tersebut
memberikan implikasi bagi pendidik dalam menentukan tujuan, memilih bahan ajar,
menentukan metode, memilih dan menggunakan media, serta mengevaluasi
perkembangan dan mendukung belajar anak secara optimal.
Pembelajaran dirancang agar anak dapat berinteraksi dengan
anak lainnya secara individual dan dalam kelompok kecil. Motivasi dan bimbingan
diberikan agar anak mengenal lingkungannya, mengembangkan ketrampilan social,
pengendalian dan disiplin diri.
Ø PEMBELAJARAN
YANG BERORIENTASI PADA PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI
Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan
mengacu pada tiga hal penting, yaitu:
1) Berorientasi
pada usia yang tepat.
2) Beorientasi
pada individu yang tepat.
3) Berorientasi
pada konteks sosial budaya.
Pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan
harus sesuai dengan tingkat usia anak, artinya pembelajaran harus diminati,
kemampuan yang diharapkan dapat dicapai, serta kegiatan belajar tersebut
menantang untuk dilakukan anak di usia tersebut. Selain berorientasi pada usia dan
individu yang tepat, pembelajaran berorientasi perkembangan harus mempertimbangkan
konteks sosial budaya anak. Untuk dapat mengembangkan program pembelajaran yang
bermakna, guru hendaknya melihat anak dalam konteks keluarga, masyarakat dan
factor budaya yang melingkupinya.
Ø KARAKTERISTIK
PEMBELAJARAN UNTUK ANAK USIA DINI
Anak memiliki karakteristik yang berbeda dengan
orang dewasa dalam berperilaku. Dengan demikian, dalam hal belajar anak juga
memiliki karakteristik yang tidak sama pula dengan orang dewasa. Karakteristik
cara belajar anak merupakan fenomena yang harus dipahami dan dijadikan acuan
dalam merencanaka dan melaksanakan pembelajaran untuk anak usia dini.
Atas dasar pendapatdiatas, dapat dinyatakan bahwa pembelajaran
untuk anak usia dini memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Anak
belajar melalui bermain
b. Anak
belajar dengan cara membangun pengetahuannya
c. Anak
belajar secara alamiah
d. Anak
belajar paling baik jika apa yang dipelajarinya mempertimbangkan keseluruhan aspek
pengembangan, bermakna, menarik dan fungsional.
Anak-anak belajar melalui interaksi dengan alat-alat
permainan dan perlengkapan serta manusia. Anak belajar dengan bermain dalam
suasana yang menyenangkan. Hasil belajar anak menjadi lebih baik jika kegiatan
belajar dilakukan dengan teman sebayanya. Dalam belajar, anak menggunakan
seluruh alat inderanya.
Ø LANDASAN
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
1.
Landasan
yuridis
a. Dalam
Amandemen UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 dinyatakan, “setiap anak berhak atas
kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan”.
b. Dalam
UU no. 23 th 2002 pasal 9 ayat 1 tentang perlindungan anak. “ setiap anak
berhak memperoleh pengajaran dan pendidikan”.
c. Dalam
UU no. 20 th 2003 tentang sistem pendidikan nasional bab 1 pasal 1 butir 14
dinyatakan.” Pendidikan anak usia dini merupakan upaya pembinaan yang
ditunjukkan kepada anak sejak lahir sampai usia 6 tahun”.
d. Peraturan
menteri pendidikan nasional no 58 th 2005 tentang standart pendidikan anak usia
dini.
2.
Landasan
filosofis
Filosofi
pendidikan merupakan kerangka landasan yang sangat fundamental bagi sistem
pendidikan dan para pendidik. Kerangka
filososfis harus menjadi kerangka berpikir guru dalam pembelajaran. Dari sudut
filosofis pendidikan, banyak ragam konsep atau cara pandang pelaksanaan yang
digagas oleh para filosof.
a.
Idealisme
Idealisme
termasuk dalam kelompok filsafat tertua.
Tokoh aliran ini adalah Plato (427 – 347 SM) yang secara umum dipandang sebagai
bapak idealisme di barat yang kira – kira hidup 2500 tahun lalu. Idealisme
adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa alam semesta ini perwujud an
intelegensi dan kemauan, hal, zat, atau substansi yang kekal abadi dalam dunia
ini bersifat kejiwaan dan ruhaniyah.
b.
Realisme
Realisme
berasal dari kata real yang berarti aktual. Realisme termasuk dalam kelompok
pemikiran klasik. Realisme berpandangan bahwa ada alam semesta yang bersifat
real yang tidak bergantung pada hal yang bersifat kejiwaan dan melalui
pengalaman langsung. Tokoh aliran ini antara lain Aristoteles dan Thomas
Aquino.
c.
Naturalisme
romantik
Tokoh
aliran filsafat ini adalah Jean Jacques Rousseau (1712 – 1778). Ajaran filsafat
naturalisme romantik jean dalam emile antara lain berisi gagasan sebagai
berikut. “segala sesuatu yang berasal dari sang pencipta adalah baik, tapi
karena tangan manusia segala sesuatu itu menjadi rusak”. Sesuai dengan
pandangan diatas, pendekatan untuk mendidik anak bukanlah dengan mengajar
secara formal atau melebihi pengajaran langsung. Melainkan dengan memberi kesempatan kepada
mereka melalui proses eksplorasi.
d.
Pragmatisme
Aliran
ini muncul pada abad 20. Pendiri aliran ini adalah Charles E Peirce. Pemikiran Charles mendapat pengaruh
dari Kant. Aliran ini juga biasa disebut aliran eksperimentalisme. Karena dalam
penggunaanya membutuhkan eksperimen untuk membuktikan kebenaranya. Pragmatisme
adalah salah satu aliran filsafat yang anti
metafisika. Kenyataan sebenarnya adalah kenyataan fisik. Segala sesuatu
dalam alam dan kehiduapan iniberubah karena hakikat dari segala sesuatu adalah
perubahan. Menurut John Dewey, pendidikan yang benar hanya akan muncul dengan
menggali keunggulan anak – anak didik yang timbul dari tuntutan situasi sosial
dimana dia menemukan jati dirinya.
e.
Eksistensialisme
Eksistensi
menurut Save M Dagun berasal dari kata latin eksistere yang berarti membuat
berdiri. Eksistensialisme merupakan
aliran filsafat yang melukiskan kedudukan manusia yang sulit. Denagn demikian
pokok pemikiran filsafat eksistensialisme dicurahkan kepada pemecahan yang
konkret terhadap persoalan mengenai manusia. Aliran ini berpendapat bahwa
segala sesuatunya berpacu pada eksistensi.
3.
Landasan
psikologis
Pendidikan
anak usia dini merupakan suatu interaksi para pendidik dan peserta didik. Dalam
membantu mengaktualisasikan perkembangan anak agar lebih terpacu berbagai
sensor psikomotoriknya. Dalam konteks psikologi, perkembangan anak didik
mempunyai karakteristik dan tahapan perkembangan normatif yang relatif sama
dengan usia kalender. Beberapa konsep
generik psikologi perkembangan anak yaitu :
(1) Pengembangan
tentang konsep anak didik dapat diperoleh melalui studi perkembangan. Studi ini
pernah dilakukan oleh Jean Piaget tentang perkembangan kognitif anak.
(2) Terdapat
berbagai teori mengenai perkembangan individu. Salah satunya teori penahapan ,
menurut teori ini individu berjalan melalui tahap – tahap perkembangan. Setiap
tahap pasti mempunyai karakteristik tertentu. Dalam setiap tahap, individu
merasakan perubahan yang tidak disadari karena sudah merupakan lahiriah.
4.
Landasan
neurosains
Neurosains
merupakan salah satu lompatan keilmuan pendukung yang sangat memberikan
kontribusi dalam menelaah dan memahami tentang perkembangan psikologis melalui
kajian keilmuan tentang sel saraf. Dalam berbagai penelitian yang dilakukan
oleh Binet Simon pd tahun 1980 bahwa otak berada dalam organ kepala mempunyai
peran yang sangat penting, mulai dari berbagai saraf yang menyalur ke seluruh
tubuh hingga menentukan kecerdasan seseorang. Penelitian terbaru mengemukakan
bahwa, apabila anak – anak jarang diajak bermain atau jarang disentuh,
perkembangan otaknya 30% lebih kecil daripada ukuran normal pada usia itu.
5.
Landasan
sosio – antropologi
Perkembangan
anak pada berbagai dimensi perkembangan tidak pernah terlepas dari konteks
kehidupan sosial dan kultural yang melatar belakangi. Konteks kehidupan kultur
dan sosial anak tersebut akan
menimbulkan karateristik anak tersebut dan berpotensi dalam pertumbuhan anak
tersebut. Kehidupan sosio kultural yang palin g dekat dengan anak yaitu
keluarga. Dalam berbagai konteks keluarga akan menyalurkan berbagai konsep
hidup, pengetahuan, dan lain lain. Seiring dengan pengalaman interaksional anak dengan kehidupannya, desakan untuk
memberikan perlindungan dan pemenuhan hak asasi anak juga menjadi salah satu
koridor yang mendesakuntuk dipertimbangkan dalam menata serta mengembangakan
kurikulum utuh untuk paud.
6.
Landasan
empirik
Pada
hakikatnya, anak itu unik, mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan ,
energik dan egosentris dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Kurikulum
untuk anak usia dini haris benar benar sesuai dengan usia dan perkembangan
psikomotorik anak. Pembelajaran untuk anak usia dini pada hakikatnya adalah
pembelajaran yang berorientasi bermain sambil belajar dan sebaliknya.
Pendekatan yang paling tepat adalah pembelajaran yang berpusat pada anak.
Ø PENGAWASAN
PAUD
Dalam pembelajaran PAUD dibutuhkan fungsi-fungsi
manajemen agar tujuan dari adanya pembelajaran PAUD dapat tercapai sesuai yang
diharapkan. PAUD adalah suatu lembaga dimana dapat membimbing, mengarahkan anak
usia dini agar dapat menjadi anak yang cerdas agar bisa menjadi generasi emas. Pengawasan
di dalam PAUD dapat digunakan untuk mengawasi/menilik atau mengamati program
kegiatan pembelajaran di PAUD seperti sasaran, proses, hasil, dan pengaruh dari
pembelajaran PAUD terhadap siswa atau anak-anak usia dini. Pengawasan
pendidikan anak usia dini antara lain:
a. Kurikulum
PAUD
b. Metode
dan teknik pembelajaran
c. Kepala
sekolah dan guru PAUD
d. Pembelajarnya
(anak-anak)
e. Biaya
sekolah PAUD
f. Sarana
dan prasarana, dll
E.
PENGAWASAN
DALAM DIKLAT/PELATIHAN
Ø PENGERTIAN
PELATIHAN
Istilah pelatihan merupakan terjemahan dari kata “Trainning” dalam bahasa
inggris. Secara harfiah akar kata “trainning” adalah “train” yang berarti :
1. Memberi
pelajaran dan praktik (give teaching and practice)
2. Menjadikan
berkembang dalam arah yang dikendaki (cause to grow in a required direction)
3. Persiapan
(preparation)
4. Praktik
(practice)
Banyak
pengertian pelatihan yang dikemukakan para ahli, antara lain sebagai berikut:
Edwin B.Flippo (1971) mengemukakan bahwa : “tranning
is the act of increasing the knowlegde and skill of an employes to perform
specipic jobs are in creased” (istilah latihan yang dipergunakan disini adalah
untuk menunjukan setiap proses untuk mengembangkan bakat, keterampilan, dan
kemampan pegawai guna menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan.
Michael J. Jucius (1972) mengemukakan : “the term
tranning is used here to indicate any process bay wich the aptitudes, skill and
abilities of employes to perform specipic jobs are in creased” (istilah latihan
yang digunakan disini adalah unutuk menunjukan setiap proses untuk
mengembangkan bakat, keterampilan, dan kemampuan pegawai guna menyelesaikan
pekerjaan – pekerjaan tertentu).
Simamora (1995 : 287) mengartikan pelatihan sebagai
serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian – keahlian,
pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap seorang individu. Sementara
dalam instruksi presiden No. 15 tahun
1974, pengertian pelatihan dirumuskan sebagai berikut : “pelatihan adalah
bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan
meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu
yang relatif singkat, dan dengan menggunkan metodeyang lebih mengutamakan
praktik daripada teori.
Istilah pelatihan biasa dihubungkan dengan
pendidikan. Ini terutama karena secara konsepsional pelatihan tidak dapat
dipisahkan dari pendidikan. Meskipun demikian secara khusus pelatihan dapat
dibedakan dari pendidikan. untuk memahami istilah pendidikan. Untuk memahami
istilah pendidikan, kriteria yang dikemukakan oleh peters (1996, hal 45).
Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor
20 Tahun 2005, dikemukakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajardan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinyauntuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sistem
pendidikan dipandang sebagai perangkat negara, yang fungsinya menciptakan
masyrakat (pekerja) yang memiliki kualitas dan keterampilan yang dibutuhkan.
Sehingga berdasarkan pandangan tersebut, pendidikan merupakan usaha untuk
memproduksi klasifikasi sosial dan ekonomi. Perbedaan antara penddikan dari
pelatihan adalah pertama, pendidikan merupakan aktivitas pembelajaran yang
lebih luas dan dalam dibandingkan pelatihan. Kedua, pelatihan lebih berkaitan
dengan pengembangan keterampilan tertentu, sedangkan pendidikan lebih berkaitan
dengan tingkatan – tingkatan pemahaman secara umum.
Ø TUJUAN
PELATIHAN
Dale S. Beach (1975) mengemukakan, “ The objective
of tranning is to achieve a change in the behavior of those trained” (tujuan
pelatihan untuk memperoleh perubahan dalam tingkah laku mereka yang dilatih).
Sementara itu dari pengertian pelatihan yang dikemukakan Edwin B. Flippo,
secara lebih rinci tampak bahwa tujuan pelatian adalah untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan seseorang.
Secara khusus dalam kaitan dengan pekerjaan,
Simamora (1995) mengelompokkan tujuan pelatihan ke dalam lima bidang, yaitu:
·
Memutakhirkan keahlian para karyawan
sejalan dengan perubahan teknologi. melalui pelatihan, pelatih memastikan bahwa
karyawan dapat secara efektif menggunakan teknologi baru.
·
Mengurangi waktu belajar bagi karyawan
untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan.
·
Mempersiapkan karyawan untuk promosi
·
Mengorientasikan karyawan terhadap organisasi
Sedangkan menurut Marzuki (1992 : 12) ada tiga
tujuan pokok yang harus dicapai dengan pelatihan, :
·
Memenuhi kebutuhan organisasi
·
Memperoleh pengertian dan pemahaman yang
lengkap tentang pekerjaan yang standart dan kecepatan yang telah ditetapkan dan
dalam keadaan yang normal serta aman.
·
Membantu para pemimpin organisasi dalam
melaksanakan tugasnya.
Ø PRINSIP
– PRINSIP PELATIHAN
ü Prinsip perbedaan individu
Perbedaan individu dalam latar belakang sosial,
pendidikan, pengalaman,minat, bakat, dan kepribadian harus diperhatikan dalam
menyelenggarakan pelatihan.
ü Prinsip motivasi
Agar peserta pelatihan belajar dengan giat perlu ada
motivasi. Motivasi dapat berupa pekerjaan atau kesempatan berusaha,
penghasilan, kenaikan pangkat atau jabatan, dan peningkatan kesejahteraan serta
kualitas hidup. Dengan begitu, pelatihan dirasakan bermakna oleh peserta
pelatihan.
ü Prinsip pemilihan dan pelatihan para pelatih
Efektivitas program pelatihan antara lain bergantung pada
para pelatih yang mempunyai minat dan kemampuan melatih. Anggapan bahwa
seseorang yang dapat mengerjakan sesuatu
dengan baik akan dapat melatihkannya dengan baik pula tidak sepenuhnya benar.
Karena itu perlu ada pelatihan bagi para pelatih. Selain itu pemilihan dan
pelatihan para pelatih dapat menjadi motivasi tambahan.
ü Prinsip belajar
Belajar harus dimulai yang mudah menuju yang sulit atau
dari yang sudah tau ke yang belum diketahui.
ü Prinsip pertisipasi aktif
Partisipasi aktif dalam proses pembelajaran pelatihan
dapat meningkatkan minat dan motivasi peserta.
ü
Prinsip
fokus pada batasan materi
Pelatihan hanya untuk menguasai materi tertentu yaitu
melatih keterampilan dan tidak dilakukan terhadap pengertian, pemahaman dan
sikap.
ü
Prinsip
dignosis dan koreksi
Ø LANDASAN
– LANDASAN PELATIHAN
Terdapat beberapa landasan yang mengukuhkan
eksistensi pelatihan(Mustofa Kamil , 2010 hal : 14). Landasan-landasan di
maksud adalah :
a. Landasan
Filosofis
Pelatihan
merupakan wahana formal yang berperan sebagai instrumen yang menunjang
pembangunan dalam mencapai masyarakat yang maju, tangguh, mandiri dan sejahtera
berdasarkan nilai-nilai yang berlaku. Dengan demikian pelatihan harus
didasarkan pada sistem nilai yang di akui dan terarah pada penyediaan tenaga
yang berkualifikasi agar mampu mengemban tugas dan melaksanakan perannya dalam
organisasi atau masyarakat.
b. Landasan
Humanistik
Pelatihan
didasarkan pada pandangan yang menitikberatkan pada kebebasan, nilai-nilai,
kebaikan, harga diri, dan kepribadian yang utuh. Diatas landasan ini maka
proses pembelajaran pelatihan dicirikan oleh hal-hal berikut :
·
Adanya pemberian tanggung jawab dan
kebebasan bekerja kepada peserta.
·
Pelatih lebih banyak berperan sebagai
nara sumber, tidak mendominasi peserta.
·
Belajar dilakukan oleh dan untuk diri
sendiri.
·
Ada keseimbangan antara tugas umum dan tugas khusus.
·
Motivasi belajar tinggi.
·
Evaluasi bersifat komprehensif.
c. Landasan
psikologis
Dalam
pandangan psikologi, karakteristik manusia dapat dijabarkan kedalam seperangkat
tingkah laku. Empat pandangan psikilogi yang mendasari pelatihan, yaitu
psikologi pelatihan, psikologi sibernetik, desain sistem, dan psikologi
behavioristik. Psikologi pelatihan menitikberatkan pada analisis tugas dan
rancangan pelatihan yang mencakup berbagai komponen yang kompleks. Psikologi
sibernetik memusatkan perhatian pada sistem balikan yang dinamis dan pengaturan
sendiri kegiatan pelatihan. Desain sistem mengutamakan analisis sistem
pelatihan. Psikologi behavioristik menekankan pada demonstrasi dan pelatihan
bertahap.
d. Landasao
Sosio-Demografis
Permasalahan
penigkatan kesejahteraan ekonomi dan sosial terkait dengan upaya pemyediaan dan
peningkatan kualitas tenaga kerja. Untuk itu pelatihan yang terintegrasi
diperlukan guna mempersiapkan tenaga-tenaga yang handal yang relevan dengan
tuntutan lapangan kerja dan pembangunan.
e. Landasan
Kultural
Pelatihan
yang terintegrasi yang berfungsi mengembangkan sumber daya manusia merupakan
bagian penting dari upaya membudayakan manusia.
Ø JENIS-JENIS
PELATIHAN
Terdapat bermacam-macam pelatihan. Dale yoder (1958)
mengemukakan jenis-jenis pelatihan itu dengan memandangnya dari lima sudut,
yaitu :
a. Siapa
yang dilatih (who gets trained) artinya pelattihan itu diberikan kepada siapa.
Dari sudut ini maka pelatihan dapat diberikan kepada calon pegawai, pegawai
baru, pegawai lama, pengawas, manajer, staf ahli, remaja, pemuda, orang lanjut
usia, dan anggota masyarakat pada umumnya.
b. Bagaimana
ia dilatih (how he gets trained) artinya dengan metode apa ia dilatih. Dari
sudut ini pelatihan dapat dilaksanakan dengan metode pemagangan, permainan
peran, permainan bisnis, pelatihan sensitivitas, instruksi kerja, dan
sebagainya.
c. Dimana
ia dilatih (where he gets trained) artinya dimana pelatihan mengambil tempat.
Dari sudut ini pelatihan dapat diselenggarakan ditempat kerja, disekolah,
dikampus, ditempat khusus, ditempat kursus, atau dilapangan.
d. Bilamana
ia dilatih (when he gets trained) artinya kapan pelatihan itu diberikan. Dari sudut ini pelatihan dapat
dilaksanakan sebelum seseorang mendapat pekerjaan, setelah seseorang mendapat
pekerjaan, setelah ditempatkan, menjelang pensiun dan sebagainya.
e. Apa
yang dibelajarkan kepadanya ( what he is taught) artinya materi apa yang
diberikan. Dari sudut ini pelatihan dapat berupa pelatihan kerja atau
keterampilan, pelatihan kepemimpinan, pelatihan keamanan, pelatihan hubungan
manusia, pelatihan kesehatan kerja, pelatihan penanggulangan bencana, pelatihan
penumpasan teoritis dan sebagainya.
Sementara itu J.C Denyer (1973) yang melihat dari
sudut siapa yang dilatih dalam konteks suatu organisasi, membedakan pelatihan atas
lima macam yaitu :
1. Pelatihan
induksi (induction training) yaitu pelatihan perkenalan yang biasanya diberikan
kepada pegawai baru dengan tidak memandang tingkatannya. Pelatihan induksi
dapat diberikan kepada calon pegawai lulusan SD, SLTP, SMA, SMK, kesetaraan,
dan lulusan perguruan tinggi.
2. Pelatihan
kerja (job training) yaitu pelatihan yang diberikan kepada semua pegawai dengan
maksud untuk memberikan petunjuk khusus guna melaksanakan tugas-tugas tertentu.
3. Pelatihan
supervisor (supervisory training) yaitu pelatihan yang diberikan kepada
supervisor atau pimpinan tingkat bawah.
4. Pelatihan
manajemen (management training) yaitu pelatihan yang diberikan kepada manajemen
atau untuk pemegang jabatan manajemen.
5. Pengembanagn
eksekutif (executive develompent) yaitu pelatihan untuk mengembangkan dan
meningkatkan kemampuan pejabat-pejabat pimpinan.
Ø PENGAWASAN
PELATIHAN
Pengawasan dilakukan setiap saat, pada waktu
kegiatan itu berlangsung baik itu mulai dari perencanaan dan sampai tercapainya
kegiatan sesuai yang diharapkan agar kegiatan dapat berjalan dengan baik. Hasil
pengawasan dapat digunakan untuk pelaksanaan dan pengembangan program atau
kegiatan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Di dalam kegiatan
diklat seperti pelatihan diperlukan pengawasan yang dilakukan secara baik agar
kegiatan pelatihan dapat diawasi dan dikendalikan kearah tujuan yang akan
dicapai. Pada pelatihan yang perlu diawasi yaitu antara lain:
a. Biaya
pelatihan
b. Fasilitator
dan tutor
c. Peserta
pelatihan
d. Materi
dalam pelatihan
e. Metode
dan teknik dalam penyampaian pelatihan
f. Pegawai
dan panitian pelatihan
g. Hasil
pelatihan, dll
F.
MENGADAKAN
PENGAWASAN ATAU MENGONTROL
Tindakan pengawasan atau kontrol terhadap kegiatan
yang dilakukan oleh staf dan anggota / individu-individu organisasi itu perlu
dilaksanakan oleh pimpinan organisasi. Tindakan pengawasan atau kontrol ini di
laksanakan dalam rangka mengetahui / mengecek apakah sesuatu program kegiatan
telah berjalan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah di gariskan. Dengan kalimat lain,
bahwa tindakan pengawasan ini dilaksanakan untuk mengetahui apakah ada yang
terjadi secara riil sesuai dengan apa yang semestinya terjadi.
Apabila dalam realitas terjadi
penyimpangan-penyimpangan ( kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai, baik tidak
sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai maupun program-program yang telah
ditetapkan, serta ketentuan-ketentuan lain ) maka pimpinan organisasi selaku
“controller” atau pengawas, berkewajiban untuk segera mengadakan tindakan
pelurusan-penyesuaian. Pengawasan ini dapat kita terapakan di dalam pengawasan
PAUD dan diklat/pelatihan agar pembelajaran PAUD dan program diklat/pelatihan
dapat terarah sesuai tujuan yang akan dicapai.
Tahapan
untuk mengadakan tindakan pengawasan (kontrol) dapat ditempuh :
·
Pertama, mengukur kegiatan pada tingkat
kesesuaiannya,
·
Kedua,
mengkomparasikan/memperbandingkannya dengan standar/pakem yang telah menjadi
ketetapan dan kesepakatan. Bila ternyata ada perbedaan/ketidaksesuaian maka,
·
Ketiga, diadakan upaya
pelurusan-penyesuaian dari hal-hal yang menyimpang/tidak sesuai/berbeda dengan
standar pokoknya (Ahmad & Abu, 1991:40-41).
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pengawasan
Manajemen adalah suatu usaha sistematis untuk menetapkan standar pelaksanaan
dengan tujuan-tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik,
membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya,
menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan
koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan
dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian
tujuan-tujuan perusahaan.
Pendidikan anak usia dini
(PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan
dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan
yang ditujukan bagi anak
sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani
dan rohani
agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang
diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Dengan adanya PAUD
akan dapat membimbing anak usia dini agar lebih berkembang menjadi anak yang
pandai, cerdas yang akan menjadikan anak-anak usia dini menjadi generasi emas
bagi bangsa ini.
Pelatihan
adalah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian,
pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap seorang individu. Dengan
adanya keahliah dapat membuat individu semakin berkembang dan dapat
meningkatkan kualitas keterampilannya sesuai dengan bidangnya.
Pengawasan
sangat penting dalam proses untuk mengkontrol program PAUD dan pelatihan yang
akan dilaksanakan agar program kegiatan dapat terus dipantau atau diamati dan
apabila terjadi kesalahan yang menyimpang dari tujuan awal bisa diperbaiaki
dari awal sehingga adanya pengawasan harus dilakukan setiap saat pada suatu
program kegiatan. PAUD dan pelatihan memiliki kegunaan bagi individu agar dapat
meningkatkan perkembangan otak, pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan
sehingga PAUD dan pelatihan harus bisa selalu ditingkatkan dalam pendidikan
nonformal.
B.
SARAN
Semoga dengan
adanya penjelasan tentang pengawasan, PAUD, dan peltihan dapat membantu kita
sebagai warga PLS agar nantinya bisa membuat program PAUD dan pelaksanaan
Pelatihan bagi masyarakat dan anak-anak agar terlaksana dengan baik dan bisa
menggunakan fungsi manajemen di dalam pelaksanaan program tersebut sehingga
akan mudah tercapai tujuan kita mengadakan program PAUD dan pelatihan. Kita
sebagai warga PLS harus mampu memberikan program-program yang baik, bermanfaat
bagi masyarakat mulai dari anak-anak sampai orang tua. Dengan belajar
fungsi-fungsi manajemen terutama pengawasan semoga kita akan tahu cara-cara
pengawasan bagi program kita seperti PAUD dan pelatihan sehingga kita bisa
mengurangi dan mencegah kendala-kendala yang akan muncul yang dapat mengganggu
program kita.
DAFTAR PUSTAKA
Notoadmodjo, Soekidjo. 2009. Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
Sudjana. 2004. Manajemen Program Pendidikan untuk Pendidikan Nonformal dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung: Falah Production.
Rohani, Ahmad dan Ahmadi, Abu. 1991. Pedoman Penyelenggaraan Administrasi
Pendidikan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Rohman, Muhammad dan Amri, Sofan. 2012. Manajemen Pendidikan Analisis dan Solusi
terhadap Kinerja Manajemen Kelas dan Strategi Pengajaran yang Efektif.
Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2010. Buku Pintar Playgroup. Jogjakarta: Buku
Biru.
Kamil, Mustofa. 2010. Model Pendidikan dan Pelatihan (Konsep dan
Aplikasi). Bandung: Alfabeta.
Rohman, Muhammad dan Amri, Sofan. Manajemen Pendidikan. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Ardy, Novan Wiyani dan Barnawi.2012.
Format PAUD( Konsep,Karakteristik dan
Implementasi PAUD ). Jakarta: Ar ruzz media.
http://tunas63.wordpress.com/2010/06/15/fungsi-tujuan-dan-jenis-paud/
diakses pada tanggal 28 november 2013 pada pukul 20:31
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/04/hakikat-pengawasan-sekolah/
diakses pada tanggal 28 november 2013 pukul 20:36
http://ozetus.wordpress.com/2013/07/20/pendidikan-anak-usia-dini-paud-prinsip-dan-tujuannya/
diakses pada tanggal 28 oktober 2013 pukul 20:42
Tidak ada komentar:
Posting Komentar